banner 468x60

DIMENSI AKHLAQ YANG TERPUJI

 TASAWWUF
banner 468x60

Allah SWT berfirman: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Luqman [68]: 4)

Ayat ini kiranya sudah cukup untuk menjelaskan betapa agama Islam sangat menjunjung tinggi budi pekerti serta menempatkannya pada posisi yang mulia dan agung. Rasulullah SAW sebagai manusia dengan akhlak paripurna bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Dari sini semakin jelas bahwa di antara hikmah diutusnya para nabi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia, yang dari masa ke masa mereka tak pernah lepas dari akhlak yang buruk dan tercela.

Akhlak yang mulia jelas merupakan ajaran penting dalam Islam, tentunya sangat banyak dalil al-Qur’an maupun Hadis serta penjelasan para ulama, tentang pentingnya akhlak yang mulia serta kemuliaan derajatnya di sisi Allah SWT. Namun tahukah kita bahwa akhlak memiliki dimensi yang meliputi segala gerak-gerik kita pada saat kita berinteraksi dengan hal-hal di luar kita maupun diri kita sendiri.

Mengenai interaksi kita dengan hal-hal di luar kita setidaknya bisa kita klasifikasikan menjadi tiga, yaitu:  Pertama; interkasi kita dengan Allah SWT. Kedua; interaksi kita dengan Rasulullah SAW. Dan yang ketiga; interkasi kita bersama makhluk.

Pertama, interaksi kita bersama Allah SWT, atau cara kita bersikap pada saat kita berinteraksi dengan Allah SWT ialah dengan selalu menghindari perkara yang dapat merusak amal ibadah kita kepada Allah SWT, kemudian menjaga hati kita agar jangan sampai berpaling pada selain Allah SWT, dan menghindari segala hal yang dapat membuat kita tidak senang kepada Allah SWT. Juga pada saat kita beribadah hendaknya jangan sampai kita mengangkat pandangan kita ke atas dan hendaknya kita mengerjakan ibadah dengan tenang, khusyu’ dan tawaddu’ (rendah hati). Itulah di antara cara kita bersikap pada saat kita berinteraksi dengan Allah SWT.

Kedua, sikap kita atau akhlak kita pada Rasulullah SAW ialah kita betul-betul menerima pada Rasulullah SAW beserta segala yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW, berupa perintah dan larangannya inilah yang dimaksud berakhlak pada Rasulullah SAW. Termasuk juga kita tidak boleh menetapkan suatu hukum baik berupa perintah atau larangan sebelum ada ketentuan dari Allah dan Rasulullah SAW.

Ketiga, akhlak kita kepada makhluk Allah SWT ialah kita berinteraksi dengan mereka disesuaikan dengan kadudukan dan tingkatan mereka, sebab manusia bila diukur pada diri kita, maka ada tiga tingkatan, yaitu: orang yang lebih tinggi dari kita, orang yang sama atau sejajar dengan kita, dan orang lebih rendah dari kita. Di sinilah kita diperintah untuk mampu beradaptasi dengan makhluk Allah SWT yang disertai dengan perbedaan jenis dan tingkatanya. Karena setiap tingkatan manusia menentukan bagaimana kita bersikap pada mereka dengan sikap yang khusus serta berbeda dari yang lain, semisal sikap kita pada kedua orang tua tentunya berbeda dengan sikap kita pada guru dan tidak sama dengan sikap kita dengan teman sejawat ataupun murid kita, semuanya mempunyai tingkatan yang berbeda yang menuntut kita untuk membedakan sikap dan interaksi. Wallahu a’lam.

Zainal Arifin

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.