banner 468x60

AYAH ANGKAT MENJADI WALI NIKAH

 KONSULTASI AGAMA
banner 468x60

 

Assalâmu’alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh. Di desa kami ada seorang lelaki yang menikah dengan wanita di luar kota, setelah dua tahun menjalani rumah tangga yang harmonis, pasutri tersebut dikaruniai anak berkelamin wanita. Namun tanpa disangka, di saat ayah mertuanya sakit parah, sang ayah memberi tahu bahwa istrinya bukanlah anak kandungnya, melainkan hanya anak angkat namun telah disusui oleh istrinyja sejak masih belum berumur dua tahun. Padahal saat pelaksanaan akad nikah, ayah angkat tersebut yang mewakilkan pada penghulu untuk menikahkan anak perempuannya. Penghulu dan para saksi saat itu tidak ada yang tahu kalau anaknya hanyalah anak angkat. Apakah memang boleh ayah angkat menikahkan dengan alasan sudah menjadi ayah rodlo’? dan bagaimana nasib pernikahan keduanya dan setatus anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut?

Penanya: Amanurrohman Arosbaya, 085965732xxx.

Jawaban:

Wa’alaikumussalâm Warahmatullâhi Wabarakâtuh. Rodlo’ yang memenuhi syarat-syaratnya memang menyebabkan wanita yang menyusui dan dan suaminya serta seluruh keluarganya menjadi mahram dari anak yang disusui. Namun kemahraman di sini hanya dalam kaitan hukum tidak batalnya wudlu’ saat bersentuhan lawan jenis dan tidak bolehnya dinikahi. Sedangkan untuk ketentuan hukum yang lain seperti warisan, nafaqah, dan yang lain, sama sekali tidak berpengaruh. Sehingga ayah angkat, meski istrinya telah menyusui anak yang diangkat sejak sebelum umur dua tahun, hanya bersetatus ayah dalam dua hukum di atas dan tidak bisa menjadi wali nikah. Karenanya, setatus pernikahan tersebut tidak sah dan harus segera dipisahkan atau diakad lagi oleh ayah kandungnya atau oleh wali hakim jika memang tidak punya wali. Adapun setatus anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut tetap bernasab pada ayah biologisnya, sebab meski pernikahan tersebut tidak sah, namun sang ayah di saat berhubungan dengan sang ibu memiliki keyakinan bahwa wanita yang digaulinya adalah istrinya yang sah. Hal semacam ini dikenal dengan istilah wathi’ syubhat lil fa’il yang menetapkan nasab pada anak yang dihasilkan dari hubungan semacam ini.

Lihat: Hasyiyah I’anah at-Thalibin; Juz 03, Hal 292 & Raudlot at-Thalibin; Juz 09, Hal 3.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.