banner 468x60

Dr. KH Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab): Pemerintahan Tidak Harus Berbentuk Khilafah

 NEWS
banner 468x60

Harlah NU ke-94 di Berlebuk Arosbaya Bangkalan (25 April 2017) yang diadakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan menyisakan sebuah hal yang sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat luas, dimana pada pemberitaan sebelumnya hal ini tidak di ekspos dan luput dari goresan pena wartawan.

Hal dimaksud adalah tausiyah Dr. KH Abdullah Syamsul Arifin atau yang akrab dipanggil Gus Aab, dimana dalam tausiyahnya beliau banyak mengupas tentang ke-NU-an mulai dari sejarah berdirinya NU, pedoman NU dalam beribadah sampai wawasan kebangsaan NU.

Disini saya mencoba menulis apa yang telah saya catat dalam kegiatan tersebut walaupun mungkin tidak sama persis dengan kalimat yang gus Aab sampaikan setidaknya saya berusaha tidak merubah subtansi dari tausiyah beliau.

Berikut beberapa hal yang berhasil saya catat; “Kalo kita memperingati harlah NU sudah seharusnya kita memiliki semangat, bukan dalam rangka mengulang sejarah, tapi melahirkan kembali NU dalam artian semangat pada saat NU didirkan terus hidup sebagai benteng NKRI

NU lahir pada tahun 1926 M. atau 1344 H. Kalau dihitung pakai kalender Masehi, maka NU lahir 91 tahun yang lalu tapi kalau menggunakan kalender hijriyah, maka NU lahir 94 tahun yang lalu dan menurut keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang menetapkan bahwa harlah NU menggunakan kalender Hijriyah bukan Masehi.

Kalau ada orang yang menanyakan, bila NU lahir pada tahun 1926 berarti lebih dahulu Muhammadiyah dan persis daripada NU? Perlu diketahui bahwa NU lahir pada tahun 1926 hanya sebagai organisasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat pada saat itu namun hakikatnya NU sudah ada di indonesia bersamaan dengan masuknya islam ke indonesia itu sendiri, sebab apa yang diperjuangkan oleh NU adalah berlakunya ajaran Islam ahlusunnah wal jamaah dalam bingkai NKRI sebagai mana ajaran yg diperjuagkan oleh wali songo

Disebutkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalan Risalah Ahlisunnah Wal Jamaah bahwa penduduk nusantara sejak masuknya islam ke indonesia mereka itu satu aliran, yaitu mereka mengikuti madzhab syafi’i dalam fiqih, imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam aqidah dan dalam Tasawwuf mengikuti imam al-Ghazali dan Abil Hasan Ali Assyadzily.

Namun secara aturan organisasi (AD/ART) NU dalam fiqih ikut 4 madzhab (madzahibul arba’ah)
Dan kalau kita lihat secara realitas warga nahdiyyin adalah syafiiyah dalam berfikih

Islam dibawa oleh Wali Songo tanpa kekerasan melalui akulturasi budaya merubah masyarakat Jawa yang Hindu dan penganut aliran kepercayaan sampai 95 persen menjadi islam, serta juga melalui jalur pendidikan dimana banyak didirikan musholla-musholla dan Pondok Pesantren. Sedangkan agama Kristen dibawa oleh kolonial belanda dan portugis dengan pejajahan dan kekuasaan.

Pada tahun 1922 terjadi perubahan peta politik islam dengan ditaklukannya kerajaan Hijas oleh Ibnu Saud yang berkolaborasi dengan Muhammad bi Abdul Wahab dan menjadikan Wahhabi sebagai madzhab resmi negara kerajaan Saudi Arabia, kemudian pada tahun 1924 kehalifaan turki di hapus, maka indonesia sebagai nagara dengan penduduk muslim terbesar perlu mengambil sikap dan berpartisipasi dalam perkumpulan ulama’ sedunia yang diadakan di Hijaz

KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai perwakilan Ulama Pesantren tidak diberangkatkan oleh pemerintah Hindia Belanda akhirnya NU membentuk Komite Hijaz dengan tujuan memberagkatkan KH Abdul Wahab Hasbullah melalui sumbangan Pondok Pesantren, sehingga sampai saat ini umat islam dapat melakukan ritual ibadah haji sesuai denga madzhab yang diikutinya.

Wawasan kebangsaan NU, Agama ibarat air sedangkan sistem pemerintahan /kekhalifaan tak ubahnya botol dimana untuk memindahkan air ke dalam kendi cukup dengan mengambil airnya saja jangan masukkan air beserta botolnya ke dalam kendi sebab pasti akan ada benturan begitu pula untuk membawa islam ke sebuah negara cukup ambil ajarannya saja jangan ikutkan sistem pemerintahannya sebab pasti akan terbentur dengan sistem pemerintahan yang sudah ada bukan hanya di Indonesia tapi juga di belahan negara lain. Oleh karenanya Jangan pernah meragunakan nasionalisme NU karna NU yang melahirkan NKRI

Jangan sampai agama dibenturkan dengan perundang undangan yg berlaku sebab pemberlakuan satu ajaran agama di satu negara bararti pembunuhan pada agama itu sendiri, contohnya seandainya di Bangkalan harus agama islam, maka di Papua juga akan menuntut harus agama kristen.

Dalam Islam wajib mengangkat pemimpin namun kepemimpinan dalam islam tidak harus dengan sistem khilafah, Pemerintahan indonesia sudah cukup merepresentasikan kepemimpinan dalam islam yang tujuannya menjaga agama dan kemaslahatan ummat.

Agama jangan menghilangkan kemanusiaan, sedangkan kemanuasiaan jangan kebablasan dengan mengorbankan aqidah.

Kalau bisa hadirkanlah ajaran islam ibarat garam artinya makanan tanpa garam akan hampa dan dengan garam makanan menjadi gurih tanpa harus merubah wujud makanan tersebut, jangan hadirkan agama ibarat pewarna yg rasanya tidak enak namun merubah bentuk daripada makanan.

Jadikanlah NU seperti kereta api yang sudah mempunyai rel dan tujuan yang jelas dipimpim oleh seorang masinis, siapapun boleh menumpang namun jangan coba-coba memalingkan masinis dari tujuan karena kereta takkan berhenti selain di stasiunnya, jangan jadikan NU seperti taksi dimana sopirnya tidak memiliki tujuan jelas justru penumpang dapat seenaknya mengarahkan kemana taksi harus pergi sesuai kepentingannya.

Jadikan NU sebagai rumah besar yang di dalamnya terdapat banyak kamar dan jangan jadikan NU ibarat tenda sewaan yang hanya dipakai kalau ada hajatan saja”.

Zainal Arifin

Author: 

Related Posts

One Response

  1. Meretas Stagnasi Hukum Islam di Pesantren - Ma'had Aly Fadhlul Jamil1 Januari 2019 at 9:53 pmReply

    […] Stagnasi Hukum Islam di Pesantren ini disampaikan oleh KH. Abdullah Syamsul Arifin, Ketua PCNU Jember, saat Seminar Ma’had Aly dengan Judul Meretas Stagnasi Hukum Islam di […]

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.