banner 468x60

INILAH KOMENTAR MAS NAWAWY SIDOGIRI TERKAIT PILKADA SERENTAK 2018

 NEWS
banner 468x60

Pasuruan, al-UmmahNews.Com – Seperti yang diketahui bersama, pada 2018 ini akan digelar kontestasi pilkada serentak se-Indonesia. Beberapa waktu lalu, semua calon sudah mendaftar dan dinyatakan sah sebagai calon gubernur, walikota dan bupati oleh KPU setempat. Tentu saja, para calon gubernur maupun walikota dan bupati mulai mengenalkan, mensosialisasikan, dan mengampanyekan diri mereka masing-masing untuk meraih tampuk kepemimpinan, baik di tingkat provinsi, kotamadya, maupun kabupaten.

Pada Jumat siang (2/2), salah satu Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan, Mas d. Nawawy Sadoellah melalui akun facebook pribadinya, Dwy Sadoellah memberikan komentar terkait pilkada serentak tahun 2018. Status yang diunggah kira-kira pukul 1 siang ini, sampai tulisan ini dimuat, sudah di-like sekitar 500 kali dan dibagikan sekitar 200 kali. Walaupun tulisan dalam status facebook Mas Dwy (Sapaan akrab beliau) itu secara pribadi dan tidak mengatasnamakan Pondok Pesantren Sidogiri, namun (tulisan) itu seolah memberikan arahan dan pencerahan kepada masyarakat, khususnya para alumni, wali santri dan simpatisan Pondok Pesantren Sidogiri.

Berikut postingan Mas Dwy yang diunggah melalui akun facebook pribadinya:

Entahlah, tiba-tiba saja saya merasa sangat lucu melihat kejadian-kejadian menjelang Pemilu saat ini. Terutama, ketika ada beberapa orang yang dengan tiba-tiba membawa-bawa nama pesantren, Nahdlatul Ulama, Kiai, Gus, Bunyai, Ning dan seterusnya dan seterusnya. Orang-orang yang sebelumnya tidak ada sangkut pautnya dengan politik, tiba-tiba jadi ‘politisi’, tiba-tiba orasi. Sebaliknya, orang-orang yang sebelumnya tidak ada bau pesantren, tiba-tiba menjadi sangat santri. Heh! Sandiwara? Tapi mbok yaa jangan terlalu lucu begitu. Bikin kembung masuk angin!

Yang lebih lucu, ketika ada yang ngotot mendukung si-A dengan ‘fatwa’ agama, padahal si-A itu juga sangat getol merangkul orang-orang yang anti agama. Jadi, ibaratnya seperti terjadi persatuan antara ‘kubu malaikat’ dan ‘kubu iblis’ untuk kepentingan calon tertentu. Persatuan antara Bu Nyai dan biduan-biduan penyanyi. Persatuan antara iman dan kafir. Persatuan antara pembela agama dan penista agama. Seperti menyatukan vonis iya dan tidak dalam ilmu logika.

Untuk orang yang ‘menyembah’ kekuasaan, barangkali hal itu biasa saja. Yang penting bisa jadi pejabat, tak peduli siapa yang mendukung dan untuk apa mereka mendukung sebenarnya. Jangankan masih berwujud manusia, banteng ataupun beruang, dukungan dedemit-pun akan mereka terima. Tak peduli, bagaimana sejarah masa lalu mereka, juga apa kepentingan masa depan mereka.

Saya jadi teringat syair Arab yang biasa dibaca di pesantren. Kira-kira isinya, “Tidak perlu kau bertanya tentang seseorang, cukup kau tanya siapa saja yang menjadi temannya….” Syair ini mungkin juga kita pahami dengan dialektika:“Tidak perlu kau bertanya tentang seseorang, cukup kau tanya siapa saja yang menjadi musuhnya…”

Yang repot, ketika temannya itu campursari, dari jamaah salawat hingga geng koplo. Padahal, rusa tidak akan berteman dengan serigala, kecuali boneka. Nah, ketika seorang calon pejabat didukung oleh para rusa sekaligus para srigala, menurut Jenengan semua kira-kira yang sedang dikibuli dalam ‘gerombolan’ itu siapa? Rusa ataukah srigala? Atau dua-duanya?

Maaf saya ke toilet dulu…

 

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1659100210847511&id=100002426454621

 

Reporter: Muhyidin Arief
Redaktur: M. Abbas Busro

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.