banner 468x60

JANGAN AJARI KAMI TIDAK SOPAN

 KAJIAN UTAMA
banner 468x60

Resah sekali rasanya mengikuti perkembangan opini yang berserakan di dunia kedua generasi milenial, yaitu media sosial yang nyaris sudah bukan lagi diposisikan sebagai dunia maya melainkan seperti sudah lebih dari dunia nyata. Sungguh, bahasa bicara dan gaya menulis di media sosial kaprahnya, sudah tidak mengenal etika dan sopan santun; tidak pandang bulu siapa yang menjadi lawan bicara, tidak ada bedanya mana yang harusnya lebih dihormati baik karena usianya, posisinya, keilmuannya, dan nilai-nilai plus yang di milikinya. Miris sekali, di medsos semua disulap samarata.

Keresahan ini kemudian mencapai titik klimaks, setelah menyaksikan bahwa model bicara bebas nilai etika yang seharusnya dihindari malah secara deras mengalir dipraktikkan figur-figur yang secara strata sosial menjadi panutan publik. Public figure. Ada figur papan atas yang ‘terlalu’ fanatik kepada Pemerintah. Saking fanatiknya, lantas nyinyir kepada para pengkritik rezim bahkan kepada tokoh habaib; dzurriyah Rasul pun dihujani bahasa yang teramat sangat tidak elok. Bahkan seorang gus atau kiai yang justru terang-terangan menyindir serta nyinyir kepada tokoh panutan habaib, panutan umat Muslim Dunia, dengan bahasa yang tidak sopan.

Sebaliknya, santer juga di permukaan tentang kelompok habaib, tokoh ulama yang mengkritik Pemerintah dengan bahasa hujatan dan cacian yang sangat keterlaluan, bahkan diiringi provokasi-provokasi. Tensi semakin menegangkan karena tokoh ulama-habaib panutan umat yang kontra Pemerintah ini dalam perjalanannya tidak hanya menghujat dan mencaci Pemerintah, tapi juga merembet pada habaib dan ulama yang memilih pro Pemerintah. Dampaknya nyata, para umat pengikut dari dua kubu di atas, seperti mendapat legitimasi bertindak mencontoh tokoh panutannnya dalam mencaci, mnghujat dan memprovokasi. Kalau masing-masing kedua kubu memiliki sejuta, dua juta, atau bahkan tiga juta umat (misalnya), lantas berapa juta umat yang terlibat aksi saling cacimaki?

Jika Berbeda, Haruskah Tak Berbudi?

Bukankah perbedaan itu natural? Bukannya Allah bisa saja menciptakan manusia tanpa perbedaan, tapi kenapa malah dengan keragaman? Tak adakah kemudian kita berpikir bahwa ini tak lain agar kita belajar saling menghargai? Kalau toh ada sudut pandang yang harusnya diseragamkan karena menyangkut kepentingan bersama, bukankah prosesnya dengan musyawarah, tabayun dan cara-cara bijak yang lain? Lantas kenapa para ‘figur panutan’ malah mencontohkan yang lain? Tak ibakah menyaksikan bagaimana seorang yang masih lumayan muda belia sudah berani menghujat ulama, pemuda-pemuda yang belum tahu apa-apa sudah latah menghina para umara.

Kiranya penting untuk ditegaskan, bahwa apapun motifnya, bahasa yang kotor tidak pernah layak diucapkan. Saling mencaci tidak pernah dibenarkan. Kepada pemerintah, sah-sah saja mengkritik, tapi sudah barang tentu harus dengan kode etik dan cara yang baik. Tidak sependapat dengan pilihan habaib dan ulama bisa diterima, tapi nyinyir-nyindir kepada beliau-beliau, jelas melabrak etika. Sayidina Ali KW pernah mengatakan: Jangan kenali kebenaran berdasarkan individu-individu. Kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kau akan tahu siapa di pihak yang benar. Atsâr ini mengindikasikan bahwa tidak semua yang dilakukan oleh figur panutan lantas selalu dianggap kebenaran.

Oleh karena itu, maraknya pernyataan kontroversial bahkan ada yang dengan pola tidak sopan, sekalipun lahir dari figur-figur panutan, kalau toh kita belum berani menyalahkan, tetap tidak boleh dijadikan keteladanan lantas kita tiru dan kita amalkan.

Sumber: Tabloid WargaNU edisi I Rabiul Akhir 1439

 

Penulis: Mufti Shohib, SH

Editor: M. Abbas Busro

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.