banner 468x60

MAHA BENAR

 KAJIAN UTAMA
banner 468x60

Islam tidak pernah merestui perpecahan. Islam selalu mendambakan persatuan. Meminjam istilah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam Tatsbît al-Fuâd, orang yang mengaku-aku Islam tapi tidak mendengungkan persatuan maka ia bukanlah orang Islam. Komentar Habib Abdullah al-Haddad ini sebenarnya ditujukan untuk dua kutub ekstremis pemecah belah umat, yaitu Rafidhah (Syiah) dan Nashibah. Kelompok Rafidhah dengan begitu fasih menghujat para sahabat, dengan dalih membela keluarga Nabi. Sementara Kelompok Nashibah, dari arah berlawanan begitu serius melecehkan keluarga Nabi, dengan alasan membela para sahabat. Dua kelompok ekstremis ini sangat tercela dalam Islam, bahkan Habib Abdullah al-Haddad mengibaratkan keduanya seperti ‘kotoran unta yang dibelah dua.’

Sepanjang sejarah tak pernah akur, bagaikan air dan minyak, keduanya tidak pernah bisa bersatu. Bagi Rafidhah, Nashibah jauh lebih berbahaya daripada Yahudi maupun Nasrani. Sama halnya bagi Nashibah, justru Rafidhahlah yang jauh lebih berbahaya ketimbang Yahudi dan Nasrani. Baik Rafidhah maupun Nashibah sama-sama eksklusif, anti dialog dan anti toleransi antar madzhab Islam. Masing-masing mengklaim sebagai kelompok yang ‘maha benar’. Klimaksnya, mereka lebih menyukai perang sesama umat Islam ketimbang perang melawan Zionis dan Salibis Internasional. Tentu saja, yang menjadi korban adalah umat Islam ‘poros tengah’, yaitu Islam Ahlusunah Waljamaah yang selalu mendambakan kerukunan dan persatuan.

Senapas dengan Rafidhah dan Nashibah di atas adalah dua kutub ekstremis di Indonesia saat ini. Yaitu penghujat umara (pemerintah) dan penghina ulama. Keduanya sama-sama kelompok ekstrem yang membabi buta. Kelompok pertama begitu tajam menghujat Pemerintah dengan dalih membela para ulama dan habaib. Kelompok kedua begitu masif menghina, dan bahkan sangat nyinyir terhadap ulama dan habaib, dengan alasan membela pemerintah. Keduanya sama-sama mengklaim diri mereka sebagai ‘manifestasi’ kebenaran, bahkan tidak sedikit dari mereka yang malah menganggap diri mereka ‘maha benar’, dan di waktu bersamaan juga mengklaim kelompok di luar mereka—yang kemudian dianggap rival yang kudu dilawan—adalah kelompok yang selalu salah.

Nabi Muhammad SAW pernah berujar, “Dua orang yang saling mencaci maki adalah seperti dua setan yang saling menjatuhkan dan mendustakan lawannya.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad) Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad juga menegaskan bahwa orang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, banyak melaknat, suka berbuat keji, dan sering mengeluarkan ujaran kebencian. (HR. at-Tirmidzi)

Bagaimanapun, umara dan ulama sama-sama memiliki peran urgen dan signifikan dalam memajukan agama dan bangsa. Bagaikan suami dan istri, keduanya memiliki tugas masing-masing, yang jika dipahami secara mendalam memiliki muara yang sama, yaitu membangun bangsa dan negeri ini menjadi lebih baik. Mengutip pendapat Sahl bin Abdulllah RA dalamTafsîr al-Qurthubî, “Suatu bangsa akan selalu baik (aman dan tenteram), selagi masih menghormati pemimpin dan ulama.”

So, jika ingin negara kita aman dan tenteram, marilah berhenti saling menghujat dan saling menyalahkan. Toh diakui atau tidak, manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan kekhilafan, dan selalu memerlukan pembenahan. Termasuk tulisan singkat ini, juga butuh pembenahan demi pembenahan, tidak lantas melegitimasi bahwa yang kami sampaikan adalah pasti benar, apalagi ‘maha benar’.

Sumber: Tabloid WargaNU edisi I Rabiul Akhir 1439

Penulis: M. Abbas Busro

Editor: Redaktur

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.