banner 468x60

ISLAM MELARANG VALENTIN DAY

 ARTIKEL
banner 468x60

Sebagaimana “’Asyura” dimulai dan dipopulerkan oleh orang Yahudi, maka hari Valentine dimulai dan dipopulerkan oleh orang Nasrani. Peringatan Valentine diawali dengan bentuk penghormatan orang Nasrani pada tokoh agama mereka yang bernama Santo Valentino, seorang Pastur yang hidup di Romawi pada abad 17 masehi. Tokoh ini sangat diagungkan oleh orang Nasrani dan dijadikan simbol wujud kasih sayang, yang mana “kasih sayang” adalah “motto” bagi agama Nasrani. Kemudian mereka membuat sebuah moment yang disebut dengan hari “kasih sayang”, dan dijadikanlah nama dan hari kematian tokoh itu untuk “hari kasih sayang” tersebut, yaitu nama “Valentine” dan tanggal “14 Februari”.

Dengan demikian, dalam hal asal muasal, berarti ada dua kesamaan antara “hari ‘Asyura” dan “hari Valentine”. Pertama, sama-sama dimulai dan dipopulerkan oleh Ahlul-kitab, karena Ahlul-kitab itu adalah orang Yahudi dan Nasrani. Kedua, sama-sama dijadikan sebagai hari peringatan “baik”, kalau ‘Asyura untuk bersyukur dengan puasa sedangkan Valentine untuk menonjolkan simbol-simbol kasih sayang.

Namun, selain ada dua persamaan, antara ‘Asyura dan Valentine ada satu perbedaan, dan walaupun point perbedaannya lebih sedikit dari point persamaannya, namun perbedaan itu sangat tajam karena berhubungan dengan aqidah, sehingga perbedaannya mengalahkan kedua persamaannya. Perbedaan itu terletak pada tokoh yang menjadi “simbol” dalam kedua hari “peringatan” itu. Kalau ‘Asyura dalam rangka menghormati Nabi Musa, maka aqidah Islam justru menghormati dan membenarkan status Nabi itu. Akan tetapi Valentin untuk menghormati seorang Pastur, maka jelas “kepercayaan” (aqidah) Islam menentang “kebenaran” Pastur itu.

Bagi ummat Islam, mempertahankan “kemandirian” aqidah itu harus dilakukan, bahkan setiap agama pasti mendoktrin pengikutnya untuk demikian. Maka ummat Islam tidak perlu sungkan untuk menolak Valentin, sebagaimana mereka tidak perlu sungkan menolak ucapan “Hari Natal”, karena orang Nasrani akan memaklumi bahwa ini adalah masalah aqidah. Kalau ada orang Nasrani yang belum mengerti masalah ini, maka kita harus menjelaskan bahwa setiap agama, termasuk Nasrani, mendoktrin pemeluknya untuk tidak terlibat dengan kegiatan agama lain yang bersifat ritual atau penghormatan pada tokoh agama. Sebagaimana kita tidak akan mengajak apalagi memaksa mereka untuk ikut lebaran atau Maulidan, kita tidak menyalahkan mereka kalau mereka tidak mengucapkan “selamat idul-fitri” atau tidak menyanjung Nabi Muhammad SAW, karena semua itu memang bertentangan dengan aqidah mereka, maka demikian juga mereka akan memaklumi dan tidak meminta apalagi memaksa kita untuk ikut natal-an atau valentine-an.

Kesimpulannya, merayakan Valentine, bagi ummat Islam, adalah haram, dan apabila dibarengi dengan meyakini “kebenaran” tokoh Valentine maka hukumnya bukan lagi sekedar haram, tapi “kafir”! Sebagaimana meyakini kebenaran Muhammad menurut agama “Nasrani” dan “Yahudi” adalah “kafir”.

Kita harus membedakan atara hari kasih sayang dengan hari Valentine. Alhamdulillah, ternyata kita ummat Islam tidak kalah dengan bangsa lain, kalau “hari kasih sayang” yang disebut Valentin baru beberapa tahun saja populer, maka kita memiliki peringatan “hari kasih sayang” yang telah populer sejak abad ke-7 Hijriyah, tujuh ratus tahun sang silam. Peringatan “hari kasih sayang” Islam dilakukan lebih meriah, peringatannya tidak hanya menggema dalam satu hari saja, melainkan meramaikan beberapa hari bahkan kadang lebih dari sebulan. Peringatan yang saya maksudkan ini memang tidak disebut dengan nama “hari kasih sayang”, namun ketika ummat Islam membicarakan tentang “peringatan” ini maka bibir mereka tidak lepas dari membicarakan “kasih sayang”.

 

Oleh: KH. Makki Mashir

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.