banner 468x60

VALENTINE’S DAY BUKAN UNTUK UMAT ISLAM

 KAJIAN UTAMA
banner 468x60

14 Februari merupakan hari di mana Valentine dirayakan, hari yang dianggap paling pas untuk mengungkap kasih saying. Banyak versi mengungkap histori ini hingga sebagian kaum Nasrani Itali menolak perayaan hari Valentine. Beberapa ahli mengatakan bahwa sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 M yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari. (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan Barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari Valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Merujuk dari sejarah yang ada dewasa ini, boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah Hari Valentine, sebuah hari di mana orang-orang di Barat sana menjadikannya sebagai momen yang paling tepat untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup Barat, perayaan Hari Valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, hampir semua orang merayakannya,orang dewasa maupun yang sudah tua sekalipun, terutama dari kalangan remaja ABG dan juga tidak memandang agama, baik yang beragama Kristen, Budha bahkan yang Islam sekalipun. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya.

Dari sini pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sebenarnya sikap atau pandangan Islam terhadap perayaan Hari Valentine. Untuk menjawab itu kita harus tahu hakikat valentine itu sendiri, dan esensi (inti) valentine sendiri yang artinya adalah kasih sayang, wajar saja kalau hari itu dijadikan momen bagi mereka yang ingin mencurahkan kasih sayang. Hal ini sangat mengundang kerancuan atau kesalahpahaman hingga tidak sedikit dari umat Islam yang tergesa-gesa menerima, bahkan mengokohkan, membela dan ikut memeriahkanya, dengan alasan kasih sayang juga sangat dianjurkan oleh Islam.

Dalam hadis Nabi SAW disebutkan, “Tidak beriman salah seorang dari kamu, sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari) Dan juga dalam hadis lain: “Orang orang yang menyayangi sesamanya, akan disayangi yang Maha Rahman, sayangilah makhluk-makhluk yang di bumi maka makhluk makhluk yang di langit akan menyayangi kalian.” Dari kedua hadis tersebut kita dapat mengetahui dengan jelas bagaimana agama Islam menganjurkan (memerintahkan) kita untuk saling menyayangi. Namu perlu digarisbawahi, kedua hadis tersebut bersifat umum, yang artinya tidak mengkhususkan pada waktu-waktu tertentu seperti di tanggal 14 Februari (Valentine’s Day). Kembali kepada pembahasan hukum valentine, kalau kita cermati dengan seksama dan kita renungi permasalahannya maka akan sangat gamblang dan jelas hukumnya.

Yang pertama, melihat dari sejarah yang ada, valentine jelas sekali masuk dalam fî syi‘âril-kuffâr karena merupakan ritual Romawi dan juga untuk mengenang tokoh Kristiani. Dalam hadis disebutkan: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” Merujuk dari hadis ini, mengutip dawuh syaikh Ibnu Hajar al-Haitami dalam karyanya, al-Fatâwî al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, dalam hal ini terdapat pemilahan hukum sebagai berikut: 1). kufur, apabila ada tujuan menyerupai orang kafir dan sampai kagum pada mereka; 2). Haram, apabila hanya bertujuan menyerupai orang non muslim tanpa disertai kecondongan kepada agama meraka.

Yang kedua, ditambah lagi perayaan valentine banyak diisi dengan hal yang negatif, seperti percampuran laki-laki dan perempuan, hura-hura, pergi ke tempat-tempat yang tidak dibenarkan oleh syariat, dst. Maka alangkah sangat disayangkan bilamana sebagai seorang muslim masih ikut merayakan valentine. Ketahuilah, bahwa dalam Islam sudah diajarkan bagaimana cara mengasihi dan menyayangi sesama yaitu dengan membantu saudara saudari kita yang tidak mampu dengan memberikan zakat dan bantuan lain yang dapat menolong mereka. Kalaupun kita ingin mengungkap atau mencurahkan kasih sayang tersebut tidak perlu rasanya menunggu Hari Valentine, masih banyak yang tidak mampu menunggu kasih sayang dari kita.

Sumber: Buletin al-Ummah

 

Penulis: M. Nasrullah Latif, M.Pd

Editor: M. Abbas Busro

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.