banner 468x60

MERAWAT UKHUWAH DALAM PUSARAN PILKADA

 KAJIAN UTAMA
banner 468x60

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan digelar pada Juni 2018. Pendaftaran calon kepala daerah, baik provinsi maupun kabupaten atau kota sudah resmi dibuka Senin sampai Rabu (8-10/1/2018). Sejak tanggal itu, para bakal calon resmi menjadi calon. Suasana hiruk-pikuk sudah mulai mengangga, menyambut pergelaran Pilkada serentak. Sebagai warga Negara Indonesia yang baik, berpartisipasi dalam menentukan seorang pemimpin merupakan keniscayaan. Sebab, perjuangan melalui pemimpin adalah cara efektif guna membawa umat ke jalan kemakmuran. Dalam memilih seorang pemimpin tentu kita harus selektif. Tidak asal-asalan. Sebab, mereka yang terpilih memiliki tanggung jawab yang sangat berat, bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat. Maka dari itu, menetukan pilihan dengan melihat trace record adalah salah satu ikhtiar untuk menumbuhkan pemimpin yang betul-betul kredibel, sehingga cita-cita untuk menyejahterakan rakyat dapat menjadi kenyataan.

Lalu apa yang perlu kita lakukan dalam masa-masa saat ini? Berbicara Jawa Timur misalnya, di mana calon yang ada merupakan kader NU. Kedua-keduanya mengaku sudah mendapat restu sesepuh NU. Entah siapa yang mereka maksud. Namun yang jelas, siapapun yang maju menjadi kontestan Pilkada harus mencerminkan sikap dewasa dalam segi apapun; baik dari pengrahan massa, politik beretika dan pelaksanaan kampanye. Sebab, jika para calon justru memberi contoh yang berseberangan dengan nilai-nilai ke-NU-an maka yang rugi bukan siapa, melainkan warga Nahdliyin yang menjadi korban ‘kerakusan’ para elit politisi.

Merawat sebuah ukhuwah dalam konstelasi tahun politik saat ini harus dikedepankan dari pada terus menerus menjagokan egonya demi hasrat tak berujung. Dalam konteks ke-NU-an, apa yang telah digelorakan oleh KH. Ahmad Siddiq saat Muktamar ke 28 di Kerapyak Yokyakarta tahun 1989. Dasar pemikirannya tidak lain dalam rangka menjaga dan merawat hubungan masyarakat, agama dan Negara. Hal tersebut terbingkai dalam trilogi ukhuwah. Pertama, ukhuwah Islamyah, sebagai makhluk sosial dan beragama tentu konsep itu sebagai modal, bagaimana sekiranya perbedaan yang tidak begitu prinsip tidak menjadi penghalang dalam bergaul serta bekerja sama. Ukhuwah Islamiyah menjadi sebuah ikatan, tidak saja secara emosional namun juga secara spiritual.

Kedua, ukhuwah wathaniyah, hubungan berbangsa dan bernegara merupakan modal dasar untuk melakukan pergaulan sosial dan dialog dengan berbagai komponen bangsa Indonesia yang tentu saja tidak terbatas pada satu agama semata. Lebih dari itu, ukhuwah wathaniyah adalah sebuah komitmen persaudaraan antar seluruh masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam agama, suku, bahasa dan budaya. Sebab itulah, fondasi yang paling kokoh adalah menanamkan sebuah kebersamaan dalam membangun komitmen berbangsa dan bernegara.

Ketiga, ukhuwah basyariyah, yang merupakan prinsip yang dilandasi bahwa sesama manusia adalah bersaudara. Oleh karenanya, apa yag ditegaskan oleh Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya: Jika sulit mencari alasan untuk menghormati pemeluk agama lain, alasan bahwa dia adalah manusia ciptaan Allah Subhanahu Wataala saja sudah cukup. Hal senada juga pernah disampaikan oleh Sayidina Ali Karramallahu wajhah: Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan. Dua pesan di atas mengajarkan kita agar tidak mudah menyulut api kebencian antar manusia. Sebab, setiap orang di muka bumi ini adalah sudara dalam hal kemanusiaan, sehingga ada aturan tersendiri dalam melakukan interaksi sosial.

Dari sinilah kehadiran Nahdlatul Ulama berperan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Karena Ormas yang berdiri di Surabaya 31 Januari 1926 ini, tak hanya bergerak di bidang dakwah atau pendidikan psantren saja, melainkan juga menjadi bagian dari gerakan masyarakat sipil. Oleh sebab itulah, NU dalam kehidupan sehari-hari berperan penting sebagai jembatan mediasi antara pemerintah dan rakyat. Berperan penting dalam menjaga kohesi-sosial, terutama saat terjadi konflik politik. Lebih-lebih politik yang penuh dengan intrik.

Untuk itu, demi membangun perdamaian dalam perbedaan, tentunya kita membutuhkan seperangkat aturan yang bisa menjadi jembatan bagi perbedaan itu. Sehingga, terbentuklah sebuah komunitas atau bangsa yang tenteram dan jauh dari pergolakan. Di antara aturan tersebut adalah, kesadaran pluralitas yang ada di negara kita. Perbedaan agama, apalagi perbedaan dalam memilih calon gubernur atau calon bupati, jangan sampai menjadi gap antar sesama, melainkan kita jadikan sebagai perlombaan yang sehat dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Maka, sebagai bentuk kepedulian kita terhadap proses demokrasi yang berlangsung pada saat ini, harus betul-betul menjadi momentum untuk merekatkan kembali nilai-nilai ukhuwah yang telah terbangun sejak ratusan tahun silam. Jangan sekali-kali kita bercerai-berai, apalagi sampai tidak acuh antar sesama hanya gara-gara ‘baju’ yang berbeda. Berbeda dalam pilihan, bukan berarti mengharuskan kita berbeda dalam bersikap, melainkan merupakan ‘ijtihad’ masing-masing untuk menuju kesejahteraan rakyat Indonesia. Merawat ukhuwah jauh lebih signifikan dari pada menata kembali puing-puing yang bercerai-berai.

 

Penulis: Ahrori Dhofir

Editor: M. Abbas Busro

 

Sumber: Tabloid WargaNU edisi II Jumadil Ula 1439 H.

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.