banner 468x60

PONPES AL-HAMIDIYAH KONANG; SIAPKAN KADER BERWAWASAN KEISLAMAN DAN KEBANGSAAN

 LIPUTAN PESANTREN
banner 468x60

Menginjakkan kaki di Sen Asen terasa sekali aroma pedesaannya. Sawah-sawah yang dibelah dengan jalan menuju Pondok Pesantren Al-Hamidiyah menjadi pemandangan yang sangat menyejukkan. Bangunan bernuansa arsitektur Timur Tengah tampak megah dari radius 500 M. Itulah sebuah Pesantren yang memiliki segudang unit pendidikan. Tabloid WargaNU berkesempatan menemui pengasuhnya sekitar pukul 09.30-an.

Memang keberadaan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah ini merupakan salah-satu pesantren yang ada di kawasan pedesaan yang memiliki kemajuan yang sangat luar biasa. Diawali pada tahun 1975, Kiai Zarkasyi—yang merupakan penerus ketiga dari estafet perjuangan dua generasi sebelumnya, yakni KH. Abdurrahman (1850-1864), Kiai Abd Hamid (1864-1911)—bermaksud mendirikan gubuk menjadi tempat penamupungan santri. “Awal berdirinya pondok ini merupakan ikhtiar abah (KH. Zarkasyi) untuk membuat pendidikan SPM Islam, sebab menurut penuturan Kiai Zarkasyi, rencananya itu bukanlah sebuah awal dari rencana, akan tetapi hanya melanjutkan dari perjuangan para sesepuh,” ujar KH. Dahlawi memulai pembicaraan tentang sejarah pesantrennya.

Memang di Sen Asen, KH. Zarkasyi adalah pendatang, sebab sebelumnya beliau bermukim di Desa Konang, dikarenakan di sana tempatnya sudah agak penuh akhirnya Kiai Zarkasyi adhuko (hijrah) ke Sen Asen. Nah, di Sen Asen inilah cikal bakal akan lahirnya beberapa generasi yang mempunyai wawasan yang sangat luas.

  1. Dahlawi adalah sosok yang memiliki pemikiran yang sangat cemerlang, di mana karena beberapa tuntutan yang ada, sistem pendidikan yang semula hanya SMP Islam kini bertambah banyak. Melalui ide briliannya, pada tahun 1992 terbentuklah Yayasan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah. Pada tahun itu pula berdrilah MTs. Kemudian pada tahun 1994 Madrasah Aliyah (MA) resmi didirikan. Sebenarnya jauh sebelum itu, pendidikan diniyahnya berjalan sebagaimana layaknya pendidikan pesantren. Hanya sebelum itu, pendidikan di sana hanya berafiliasi kepada Lembaga Pendidikan Maarif yang berada di naungan NU, bahkan tercatat sebagai satu-satunya lembaga pendidikan pertama yang ada di naungan LP. Maarif, hal itu sekitar tahun 1986.

Begitulah perjalanan sistem pedidikan di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Sen Asen terus berkembang mengikuti alur zaman. Tak ketinggalan, peran aktif seorang yang memang mempunyai relasi yang cukup luas, KH. Dahlawi berupaya keras untuk mendirikan perguruan tinggi. Ini adalah satu-satunya perguruan tinggi di Bangkalan yang berada di tempat terpencil. Bisa dibayangkan, di tempat yang akses transportasinya sangat sulit, berdiri sebuah perguruan tinggi yang sampai saat ini jumlah mahasiswa dan mahasiswinya luar biasa. Pada tahun 1996, Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hamidiyah resmi dibuka. Ada yang sangat tidak biasa dari awal pendirian pergruan tinggi tersebut, di mana ada aturan yang mengharuskan mempunyai delapan dosen. Waktu itu sulitnya luar biasa. Akhirnya, Drs Damanhuri, dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, ditunjuk sebagai ketua, sementara mahasisiwanya hanya empat orang. Dalam arti, lebih banyak dosennya dari pada mahasiswanya.

Setelah melalui jalan panjang dari proses perjuangan, Pesantren Al-Hamidiyah terus berbenah. Bukan hanya sistem akan tetapi pembangunan fisik terus dikebut. Para santri yang berasal dari berbagai daerah, seprti Kalimantan, Bangka Belitung, Bandung, Yogyakarta dan sekitar Madura terus berdatangan. Kini Pesantren yang memiliki jumlah santri sekitar 500 putra-putri ini telah menjadi ikon perubahan pemikiran dan wawasan yang cukup signifikan.

Bagunan Ponpes al-Hamidiyah Konang berdiri dengan megah

 

Saat disinggung tentang visi-misi Pondok Pesantrennya, KH. Dahlawi mengungkapkan, “Kalau visinya ialah; perpaduan harmonis, komitmen keislaman dan kebangsaan. Sementara Mottonya ialah; berilmu, beramal, bertakwa.” Pesan KH. Dahlawi kepada semua santri baik jadi pejabat maupun jadi birokrasi hanya satu, “Jangan pernah meninggalkan identintas kesantriaanya.”

Sementara itu, ada banyak tamu dan pejabat Negara yang sudah bersilaturahim ke Pondok Pesantren Al-Hamidiyah. Antara lain, Menteri Sosial, H. Bachtiar Hamsah (2003), Menteri Agama, KH. Said Aqil Munawwar (2004), Menkop dan UKM, Suryadharma Ali (2006), Mentan H. Anton Apriantono (2009), Menag H. Suryadarma Ali (2010) dan Menag KH. Lukman Hakim Saifuddin yang bertepatan dengan Wisuda Sarjana 2017. Wisuda 2017 ini merupakan wisuda paling istimewa sarjana lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hamidiyah. Di samping dihadiri oleh para ulama Timur Tengah, Syekh Dr. Muhammad Ismail Zain al-Maliki juga turut dihadiri Menteri Agama. Dan juga, yang diwisuda adalah termasuk Kiai Khas, yaitu RKH. Fakhrillah Aschal. Saat disinggung banyaknya para kiai yang kuliah, Kiai Dahlawi dengan penuh yakin menjawab, “Saya hanya berharap aliran mâ’ albarakah dari beliau-beliau ini.”

Di akhir bincang-bincang dengan WargaNU, beliau sangat mewanti-wanti para santrinya agar tidak terjebak dengan penampilan seseorang. Menurutnya, kalau kita masih ada di Indonesia kita harus sesuai dengan budaya-budaya Indonesia. Maka dari itu, beliau menekankan bagaimana sekiranya para santri memilki wawasan keislaman dan kebangsaan yang mumpuni demi kejayaan Islam Ahlusunah Waljamaah.

Penulis: Muhyidin Arif

Editor: M. Abbas Busro

 

Jadwal kegiatan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Sen Asen

  1. Sistem pengajian kitab malam dan pagi
  2. Madrasah Diniyah pukul 13.30 sd. 1730
  3. PAUD pukul 7.30 sd. 10.00
  4. MI pukul 7.30 sd. 12.00
  5. MTS pukul 7.30 sd. 12.00
  6. SMP pukul 7.30 sd. 12.00
  7. MA pukul 7.30 sd. 12.00
  8. SMK pukul 7.30 sd. 12.00
  9. STAI pukul 13 sd. 17.00

 

Sumber: Tabloid WargaNU edisi II Jumadil Ula 1439 H.

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.