banner 468x60

PONDOK PESANTREN DARUL HIKMAH; MENYINERGIKAN KONSEP SALAF DAN FORMAL

 LIPUTAN PESANTREN
banner 468x60

Tidak terlalu sulit untuk menjangkau lokasi Pondok Pesantren Darul Hikmah. Hanya sekitar + 400 meter ke arah selatan dari Kecamatan Burneh, maka kita akan langsung disambut dengan lalu lalang para santri. Plakat nama pesantren terpampang jelas. Sebelum masuk pesantren, di sebelah kiri berjejer dalem para majelis keluarga. Sewaktu reporter Tabloid WargaNU sampai di sana, para santri sedang asyik beristirahat. Ada yang memegang buku, ada pula yang belajar komputer. Beberapa menit kemudian, KH. Bustomi Arisandi yang merupakan Ketua Pondok pesantren Darul Hikmah baru datang dari acara PCNU Bangkalan. Beliaupun mempersilakan kami. Maka dimulailah bincang-bincang antara WargaNU bersama beliau.

***

Serius: Pengajian Kitab Kifayatul Akhyar sore hari. (Keterangan foto: Asyari Yadi)

 

Hampir kita saksikan dan kita temukan beberapa pesantren besar bermula dari skala kecil. Begitu juga dengan Pondok pesantren ini . Bermula dari langgar (musala) kecil dan hanya ada kegiatan mengaji al-Quran dari beberapa santri sekitar, kini merambah menjadi pesantren pesat yang di dalamnya terdapat beberapa unit pendidikan. Ya, Pondok Pesantren Darul Hikmah yang berlokasi di desa Langkap, Burneh, Bangkalan, merupakan salah satu pesantren besar yang ada di Kabupaten Bangkalan. Pesantren ini didirikan pada bulan Juli tahun 1975 oleh KH. Jauhari Aris. Pendiri sekaligus pengasuh ini merupakan kiai ‘allâmah (memiliki keilmuan tinggi) yang ada pada saat ini. Karya-karyanya sudah banyak dinikmati oleh para penuntut ilmu.

Konon, sebagaimana dituturkan KH. Bustomi Arisandi, bahwa keberadaan Pesantren Darul Hikmah merupakan estafet kelanjutan dari lembaga pondok pesantren yang ada di dusun Pakoran, Langkap. Namun karena beberapa faktor, pondok yang ada di Pakoran itu mengalami kevakuman beberapa generasi. Baru pada generasi Kiai Jauhari yang merupakan generasi keanam, dapat melanjutkan dan mendirikan lembaga pondok pesantren. Artinya walaupun keberadaan Darul Hikmah bukanlah jelmaan dari pondok yang ada di Pakoran, akan tetapi hal itu membuktikan bahwa pendiri Darul Hikmah ini merupakan sosok yang mempunyai titisan ‘darah biru’. Sehingga tidak heran jika kemudian Kiai Jauhari mendirikan pondok pesantren yang kemudian dikenal dengan PP. Darul Hikmah.

Dalam mengelola lembaga pendidikan, Kiai Jauhari dibantu oleh beberapa putra-putrinya yang seluruhnya berjumlah enam. Sistem yang ada di pondok ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah diperoleh Kiai Jauhari saat mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum, Paterongan, Bangkalan dan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Dari segi sistem pendidikan diniyahnya, dimulai dari tingkat ibtidaiyah sampai kelas enam. Setelah tamat dari kelas enam, langsung mengikuti takhassus (kursus) ilmu gramatika Bahasa Arab. Dalam metode kursus ini melihat generasi tahun kelulusannya. Sementara kursus ditangani langsung oleh para ‘gus atau lora’. Mengapa harus dari keluarga? Sebagaimana yang disampaiakn oleh Kiai Jauhari melalui putranya Gus Tomi (panggilan akrab KH. Bustomi Arisandi), bahwa biar mata rantai keilmuan bersambung langsung kepada gurunya yang ada di pesantren. Karena yang menjadi prioritas adalah ‘al-isnâd minad-dîn’ (mata rantai keilmuan adalah bagian dari agama, red).

Asri: Gerbang masuk Pondok Pesantren Darul Falah (Keterangan foto: Asy’ari Yadi)

 

Mendirikan Pendidikan Formal

Al-muhâfazhah ‘alâ al-qadîm as-shâlih wa al-akhdzu bi al-jadîd al-ashlah (memelihara yang lama dan membuat inovasi) merupakan jargon yang tertanam pada diri Majelis Pengasuh dan Dewan Pengurus Pondok Pesantren Darul Hikmah. Untuk menjawab kebutuhan zaman serta sudah menjadi keharusan, lalu berdirilah SMP dan SMA pada tahun 1991. Menyusul kemudian SMK yang berdiri pada tahun 2010.

Rupanya sistem yang sudah mapan dan segala hal yang diperlukan oleh masyarakat sudah ada di pondok ini, maka tidak heran jika kemudian santri dari tahun ke tahun semakin bertambah. Sebab pada awal berdirinya jumlah santri hanya tujuh orang. Lalu pada tahun 1993 mencapai 90 orang. Puncaknya pada tahun 2000-an santri mulai membeludak, hingga kini jumlah mencapai seribu lebih. Untuk memenuhi kebutuhan agar para santri tetap berada dalam lingkungan pesantren, maka didirikanlah Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Hikmah atau yang disingkat dengan STAIDHI.

Sementara materi yang menjadi mata pembelajaran, selain menggunakan mata pelajaran yang berlaku di sekolah formal, juga ada mata pelajaran seperti ilmu gramatika Bahasa Arab, fikih dan faraidh. “Semua itu untuk menyatukan konsep pendidikan salaf dan formal. Karena Abah ini alumni Sidogiri dan Darul Ulum, maka konsep pendidikan dua pondok disatukan,” ujar Gus Tomi putra tertua Pengasuh sekaligus Ketua Pondok psantren Darul Hikmah.

Sementara itu kegiatan lain yang wajib diikuti oleh para santri adalah mengaji kitab kepada Pengasuh. Kegiatan ini berlangsung tiga kali dalam sehari. Pagi hari mengaji kitab tasawuf, sore hari pelajaran fikih, dan malam hari ilmu tafsir. Kegiatan pengajian kitab ini berpusat di Masjid Darul Hikmah.

 

Logo Resmi Pondok Pesantren Darul Hikmah

 

Ajari Santri Menjadi Mandiri

Sebagaimana lazimnya sebuah lembaga pendidikan, PP. Darul Hikmah juga mempunyai kegiatan yang memompa bakat para santri. Ada banyak kegiatan di pondok ini. Antara lain adalah pencak silat, yang diadakan dua kali dalam sepekan, yakni pada Malam Sabtu dan Malam Rabu. Ada pula kegiatan ekstra berupa marcingband, kegiatan ini tidak diikuti oleh semua santri melainkan tunjukan langsung. Ada pula kursus pertukangan yang dipelajari oleh santri. Di samping itu, di PP. Darul Hikmah ini ada Grup Salawat Nurus Shobah yang selalu tampil di acara-acara yang diadakan oleh masyarakat, baik alumni maupun masyarakat umum.

Mengapa para santri masih diberi bekal untuk memompa bakatnya? “Hal itu tak lain agar santri kelak jika sudah boyong, biar bisa mandiri dan tidak menyusahkan keluarganya. Sebab para santri itu harus tahu semuanya,” lanjut Gus Tomi

Lebih lanjut beliau juga mengungkapkan, bahwa sistem Pondok Pesantren Darul Hikmah ini memberi kesempatan kepada semua santri untuk selalu belajar apa saja, asal tidak bertentangan dengan konsep Aswaja. “Semua santri bisa belajar apa saja di sini. Mulai dari ilmu alat (gramatika Bahasa Arab), fikih sampai ilmu kanuragan. Semuanya disediakan,” ucap Kiai Bustomi, menutup bincang-bincang dengan WargaNU.

 

Reporter: Asy’ari Yadi

Editor: M. Abbas Busro

 

Sumber: Tabloid WargaNU edisi I Rabiul Akhir 1439 H.

Nama: Pondok Pesantren Darul Hikmah

Pendiri/Pengasuh: KH. Jauhari Aris

Tahun berdiri: Juli 1975

Alamat: Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Bangkalan.

Jumlah santri: 1020 putra-putri.

Lembaga Pendidikan Diniyah: Ibtidaiyah 6 tahun, Takhassus 4 tahun.

Lembaga Pendidikan Formal: SMP, SMA, SMK, STAIDHI.

Situs Resmi: http://darul-hikmah.com

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.