banner 468x60

PUASA “POLITIK”; MENUJU DEMOKRASI SANTUN

 ARTIKEL
banner 468x60

Bulan Ramadan tahun ini sedikit akan terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kualitas ibadah puasa masyarakat Bangkalan dan mayoritas masyarakat kabupaten dan kota lain di Jawa Timur, akan diuji sedikit lebih berat dibanding bulan puasa tahun-tahun sebelumnya. Ya, Bulan Ramadan kali ini sangat pas dengan masa-masa kampanye pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta wali kota dan wakil wali kota. Di mana kalau kita melihat tensi politik dalam negeri tiga tahun belakangan ini, dapat diprediksi suhu memanas yang sangat tinggi akan kembali membakar masyarakat Jawa Timur. Meski alhamdulillah, kita syukuri, dalam beberapa waktu terakhir, suhu tersebut tidak sepanas saat pemilihan gubernur DKI Jakarta dan Pilpres 2014 silam, namun tidak menutup kemungkinan hal yang sama juga akan menimpa Jawa Timur di tahun ini. Sebab biasanya tensi politik semakin naik memanas terjadi di masa-masa akhir kampanye akan selesai, yang hal ini diprediksikan akan terjadi saat bulan ramadan tiba, dikarenakan pemungutan suara akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018 mendatang, 13 hari setelah lebaran.

Padahal, dalam bulan ramadan secara umum, banyak dari kita yang hanya sekadar bisa menahan lapar dan dahaga semata, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw., “Banyak orang puasa, yang didapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.” (HR. ath-Thabrani). Faktor utama terjadinya hal tersebut tidak lain karena kita masih sering belum bisa puasa anggota tubuh selain mulut, lebih-lebih puasa hati. Padahal esensi dari puasa itu sendiri terletak pada pengekangan hawa nafsu melalui lapar dan dahaga. Karenanya, Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman!. Diwajibkan atas kamu semua berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu semua, agar kamu semua bertakwa.” (QS. al-Baqarah [02] 183) Menurut Imam Ibnu Katsir, ketakwaan ini diperoleh karena dengan berpuasa ada upaya pengekangan nafsu.

 

 

Namun meski demikian, tidak jarang dari kita yang meski telah melaksanakan puasa, pengekangan nafsu tersebut tidak tercapai. Yang sebenarnya kalau diamati kembali, masalahnya terletak pada kualitas puasa kita yang sejak dulu tetap ketinggalan jaman, tidak ada upgrade sama sekali. Padahal Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmid-Dîn telah menyatakan, bahwa puasa seorang hamba dari segi kualitas terbagi menjadi tiga. Pertama, puasa orang awam, puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga. Kedua, puasa orang khusus (khawâsh), puasa dari hawa nafsu untuk tidak melakukan dosa dalam apapun bentuknya dan dengan anggota tubuh manapun. Ketiga, puasa orang super khusus (khawâshil-khawâsh), puasa para wali-wali Allah SWT dari mengingat selain Allah SWT. Tentu meski tidak bisa mencapai tingkat tertinggi, kita tetap harus berupaya untuk meng-upgrade kualitas puasa kita, minimal dari puasa orang awam menuju puasa orang khusus, lebih-lebih pada momen pilkada tahun ini, hawa nafsu kita dalam berkampanye, dan mempromosikan pasangan calon pilihan kita, akan sedikit mengganggu puasa kita.

Bukan tidak mungkin, jika cara berpolitik kita masih tidak berubah dari tiga tahun terakhir ini, saling mencaci, saling menghujat, tebar fitnah dan saling menjatuhkan, maka rongga perpecahan akan kembali menganga lebar dan yang tidak boleh dilupakan, puasa kita tidak berpahala hanya sekadar lapar dan dahaga. Sudah seharusnya semua elemen masyarakat, baik itu tim sukses pasangan calon, atau yang hanya ikut-ikutan meramaikan, lebih bisa menyadari bahwa kontestasi politik tidak harus dilakukan dengan cara yang tidak baik. Bahkan akibat yang ditimbulkan oleh cara yang tidak baik tersebut akan menutupi esensi dari kontestasi politik tersebut yang merupakan proses agung dalam menyaring pemimpin terbaik bangsa. Adu visi misi dan program secara ilmiah, santun dan bermartabat, merupakan keniscayaan yang harus dilakukan. Tentu hal yang seperti ini tidak hanya harus dilakukan hanya karena bertepatan dengan bulan puasa. Tapi setidaknya ada momen dan dorongan yang lebih kuat untuk menuju ke sana, setidaknya kita harus berpikir beribu-ribu kali untuk melakukan kampanye hitam, caci maki, dan saling menghujat, bila kampanye ini bertepatan dengan bulan puasa, sudah tidak bisa mewarnai bulan puasa dengan nilai-nilai ibadah yang dianjurkan, maka minimal kita tidak mengotori kemuliaan bulan puasa dengan politik kotor.

Kita juga harus menyadari bahwa terkadang komitmen kita untuk menjaga kondusivitas bulan puasa dari praktik-praktik politik kotor ini, bertepuk sebelah tangan, terkadang rival politik kita masih belum bisa melakukannya. Maka dari itu, kita tidak usah pusing dengan hal ini, karena agama kita telah mengajarkan satu solusi terbaik saat diri kita dipancing dengan caci maki dan hujatan oleh orang lain seperti yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW, “Ketika seseorang diserang atau dicaci maki, maka berkatalah, aku sedang puasa.” (HR. al-Bukhari) Bahkan ucapan “aku sedang puasa” ini menurut Syaikh Ibrahim al-Baijuri dianjurkan diucapkan dengan suara keras, sebab dengan demikian diharapkan, ucapan tersebut kembali mengingatkan diri kita yang sedang puasa hingga bisa menahan amarah, dan juga bisa mengingatkan orang lain yang mencaci kita, sehingga bisa menghentikannya dan tidak lagi melakukannya.

Dari sini mari kita jadikan jadwal kampanye yang bertepatan dengan bulan puasa ini bukan sebagai alasan untuk terpancingnya amarah dan memanaskan tensi politik, melainkan dijadikan sebagai momen untuk bangkit dari kebobrokan politik akhir-akhir ini menuju demokrasi yang lebih bermartabat dan santun.

Penulis: Mukhtar Syafaat
Editor: M. Abbas Busro

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.