banner 468x60

KH MARZUKI MUSTAMAR: KONSEP CINTA TANAH AIR DAN BELA NEGARA ADALAH BERDASAR, SESUAI DENGAN USWAH NABI

 NEWS
banner 468x60

Ketua Ranting NU Bulukagung Ust. Muzammil bersama Ketua PWNU Jawa Timur KH. Marzuki Mustamar

Bangkalan, al-UmmahNews.Com (13/9) – Sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam dalam menyambut pergantian tahun baru hijriyah diisi dengan kegiatan-kegiatan berbau Islami, begitu halnya dengan Pengurus Ranting NU Bulukagung Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan Madura.

Dengan tajuk “Menyambut Tahun Baru Islam 1440 H”, Dusun Ro’oro Desa Bulukagung Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan Madura dipadati ratusan warga Nahdliyin, Selasa (11/9/2018).

Hadir langsung Ketua PWNU Jawa Timur KH. Marzuki Mustamar memberikan tausyiah wawasan ke-NU-an dan kebangsaan, jajaran pengurus PCNU Bangkalan dan MWCNU Klampis baik unsur tanfidziyah maupun syuriyah. Nampak pula Alhabib Abd. Rohman Assegaf, hadir di lokasi acara.

Acara ini merupakan acara puncak dari rangkaian sehari sebelumnya yang diisi dengan lomba Tartilul Qur-an Jama’atan antar Madrasah dan Musholla se-Desa Bulukagung dan bedah kitab al-Nigham li Dzawil Gham karya Mas Muhammad Ismail al-Ascholy Demangan, seorang kiai muda produktif yang telah menghasilkan beberapa literatur berbahasa Arab diantaranya; Kharaidul Faraid, al-Nigham li Dzawil Gham, Rawaihur Raihan, Izharun Na’im, Badrul Fadlil Mutalali, dan lain-lain.

Dalam tausyiahnya, Kiai Marzuki menjelaskan betapa pentingnya berorganisasi. “Alhamdulillah karena barokahnya berorganisasi, amaliyah warga Nahdliyin dari Sabang sampai Merauke seragam, adzannya sama, dzikirannya sama, qunutnya sama, jumlah raka’at tarawihnya sama, hingga tahlilannya pun sama.”

“Bahkan pengurus NU se-Jawa Timur saja mulai dari cabang hingga ranting berhasil mengumpulkan donasi dari warganya sebesar lima milyar rupiah untuk disumbangkan kepada para korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ini barokahnya ada NU, hanya bermodalkan rekaman video berdurasi pendek sudah terkumpul donasi yang cukup besar”, ujar Kiai Marzuki disambut ucapan hamdalah dari para hadirin.

Masih dalam penuturan Kiai Marzuki, Negara Indonesia yang besar dan luas ini, di dalamnya terdapat berbagai macam suku, agama, ras, bahasa, etnik, dan budaya, disatukan dengan jejeran pulau-pulau. Jumlah penduduk muslimnya terbanyak se-dunia yang mencapai hingga angka ratusan juta jiwa, berikut jumlah masjid yang mencapai kurang lebih 800 ribu.

Maka, lanjut Kiai Marzuki “membela negara Indonesia sama halnya membela ratusan juta jiwa penduduk muslim, membela negara Indonesia sama halnya membela 800 ribu masjid. Itu belum jumlah musholla, apalagi di Madura ini yang setiap rumah ada mushollanya”, disambut tawa para hadirin.

Konsep cinta tanah air yang dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari bukan tanpa dasar seperti banyak tudingan yang berkembang. Proses hijrah Nabi dari Makkah tanah kelahirannya menuju Madinah negeri yang masih asing bagi Nabi dan para sahabatnya tersebut telah menyimpan banyak kisah.

Terasa begitu berat Nabi untuk meninggalkan Makkah, tanah kelahirannya yang telah menyimpan berjuta kenangan tersebut harus ditinggalkannya begitu saja. Penduduknya yang mayoritas mengingkari kenabiannya, bahkan memusuhinya itu tak melunturkan cinta Nabi akan tanah kelahirannya.

Adapun kondisi Madinah yang ditujunya kala itu selain penduduknya mayoritas Yahudi, ternyata sedang terserang wabah penyakit, sahabat Abu Bakar dan sahabat Bilal pun mengalami demam tinggi tak lama setibanya di Madinah.

Selama lebih dari 10 bulan Nabi dan sahabat-sahabatnya tinggal di Madinah, bukan waktu yang sebentar bagi para perindu tanah kelahiran. Dari kondisi inilah, Nabi memohon kepada Allah agar memberikan kepada dirinya dan para sahabatnya cinta akan Madinah sebagaimana cintanya kepada Makkah, dan bahkan lebih.

Maka turunlah wahyu ketika Nabi sedang melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 144)

Bahkan dalam urusan membela Madinah sebagai negara, penduduk Madinah yang tidak hanya kaum Muslim saja bahkan mayoritas Yahudi kala itu, dan sebagian Nasrani, Majusi, dan lainnya berada di bawah komando Nabi melakukan strategi memecah pergerakan musuh dan menghentikan serangan lawan jauh di luar Madinah.

Demikian hikayat yang dikisahkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur di atas sebagai jawaban terhadap tudingan tidak berdasar, “konsep cinta tanah air dan bela negara adalah berdasar, sesuai dengan uswah Nabi”, jawabnya penuh semangat.

Reporter: Abdullah Hafidi

Author: 

Yang membedakan antara manusia dengan bukan manusia dalam hal transfer budaya adalah KOMUNIKASI!!!

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.