banner 468x60

KRITIK TERHADAP FIKIH WAHABI #1: Hukum Merayakan Maulid Nabi SAW

 ARTIKEL
banner 468x60

Selain dalam ranah akidah, Wahabi juga banyak berbeda dengan Ahlusunah Waljamaah dalam ranah furû’iyah (fikih/hukum praksis) dalam segala bidangnya, mulai dari bidang ibadah hingga muamalah. Salah satunya adalah mengenai perayaan maulid Nabi SAW.

Sebagian kalangan menganggap bahwa pembahasan hukum perayaan maulid Nabi SAW kini sudah tidak relevan lagi tersebab dalil kebolehannya menumpuk dan sangat kuat. Akan tetapi, saya tidak sependapat dengan anggapan tersebut, karena—meski temanya usang—maulid Nabi SAW akan selalu hangat dibahas dan dikaji ulang. Orang-orang Wahabi pun tidak akan pernah berhenti membid’ahkannya sehingga kita tidak boleh berhenti menjelaskan kebolehannya. Demi generasi masa depan.

 

 

 

Biar fair, dalam tulisan ini penulis akan mendiskusikan setiap dalil dari masing-masing mazhab menyangkut hukum perayaan maulid Nabi SAW, yang hingga saat ini ada dua mazhab utama, yaitu (1) mazhab Wahabi yang mengharamkan perayaan maulid Nabi SAW karena dianggap sebagai perbuatan bid’ah sesat dan tercela, dan (2) mazhab mayoritas ulama fikih yang membolehkan bahkan menyunnahkan perayaan maulid Nabi SAW.

Wahabi mengharamkan perayaan maulid dan menganggapnya sebagai perbuatan bid’ah tercela dengan argumentasi berikut:

Pertama, Rasulullah SAW sendiri, para shahabat, tabi’in, dan para imam mujtahid tidak pernah memperingati hari kelahiran Nabi SAW sebagaimana mayoritas umat Islam saat ini melakukannya. Hal tersebut, menurut mereka, membuktikan bahwa perayaan maulid Nabi SAW bid’ah tercela dan perbuatan tidak terpuji. Sebab, andai terpuji maka Rasulullah SAW, para shahabat, tabi’in, dan imam mujtahid pasti akan merayakannya.

Kedua, perayaan maulid Nabi SAW, menurut mereka, merupakan manifestasi penyucian (at-taqdîs) dan pengagungan berlebihan (al-ta’zhîm) yang bisa menyebabkan orang-orang salah persepsi dan menganggap Rasulullah SAW bukan manusia melainkan Tuhan.

Ketiga, subtansi perayaan maulid Nabi SAW adalah memuji sosok beliau dan hal tersebut bertentangan dengan sabda beliau sendiri: “Janganlah kalian memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa bin Maryam.” (HR. Bukhari)

Berbeda dengan Wahabi, mayoritas umat Islam yang berpaham Ahlusunah Waljamaah memperbolehkan merayakan maulid Nabi SAW dan bahkan menghukumi sunah, dengan argumentasi berikut:

Pertama, bermaulid merupakan ekspresi kebahagiaan atas hadirnya Nabi Muhammad SAW., sebagai rahmat bagi semesta alam.

Imam al-Bukhari dalam kitab shahihnya meriwayatkan hadis tentang diringankannya siksaan Abu Lahab setiap hari Senin dikarenakan ia memerdekakan sahayanya, Tsuwaibah, sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Status hadis di atas memang mursal tetapi tetap bisa dibuat dasar argumen, sebab 1) hadis tersebut diriwayatkan Imam Bukhari, 2) dijadikan dasar oleh para ulama hadis, dan 3) hadis tersebut hanya berbicara soal manaqib dan keistimewaan (al-manâqib wa khushûshiyât) bukan soal hukum halal-haram.

Kedua, Rasulullah sendiri memuliakan hari lahirnya. Hal itu beliau ekspresikan dengan melakukan puasa tiap hari Senin.

Imam Qatadah meriwayatkan bahwa Rasulullah ditanya perihal puasa di hari Senin, beliau menjawab, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula diturunkan (Wahyu) padaku.” (HR Muslim)

Ketiga, bergembira dengan Nabi SAW merupakan anjuran lansung dari al-Quran. Dalam al-Quran Allah berfirman, “Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Yunus [10]: 58)

Dalam ayat di atas, Allah memerintah kita agar bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan rahmat Allah paling agung dan mulia adalah Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” ((Al-‘Anbyā’ [21]: 107).

Ini dikuatkan oleh interpretasi Ibnu Abbas terhadap ayat di atas (Yunus: 58), beliau berkata, “Karunia Allah (fadhal) adalah ilmu, sedangkan rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad SAW.” (al-Dur al-Matsur, 3/308).

Keempat, perayaan maulid bisa membangkitkan gairah membaca sholawat dan salam yang diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi, Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian semua kepadanya dan ucapkan salam penghormatan atas Nabi SAW. (Qs. Al-Ahzab [33]: 58)

Kaidahnya, setiap pesuatu yang dapat mendorong pada suatu yang dianjurkan syariat, maka suatu tersebut dianjurkan pula oleh syari’at. Dalam kaitannya dengan maulid, jika bermaulid itu diisi pembacaan shalawat, maka bermaulid juga dianjurkan, alih-alih bid’ah tercela.

Kelima, mengetahui karakter dan kebaikan-kebaikan Nabi SAW bisa menyebabkan iman kepada Nabi lebih sempurna dan bertambah cinta kepadanya. Bertambahnya cinta dan iman yang sempurna kepadanya merupakan tuntutan syari’at. Maka, apapun yang bisa menyebabkan keduanya adalah juga tuntutan syari’at.

Allah SWT berfirman, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Im ran [3]: 31).

Keenam, memuliakan Nabi Muhammad SAW adalah legal syar’i. Bergembira dengan kelahiran beliau dengan memperlihatkan kebahagiaan, mengadakan jamuan, berkumpul untuk berzikir dan memuliakan orang-orang fakir adalah manifestasi penggungan dan kegembiraan tertinggi atas karunia Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada kita.

Ketujuh, perayaan maulid Nabi SAW adalah hal yang dianggap bagus oleh para ulama dan umat Islam di seluruh dunia dan dilaksanakan di seluruh daerah karena memang ada tuntutan syari’at berdasarkan kaidah yang diambil dari hadis Ibnu Mas’ud, “Sesuatu yang diyakini baik oleh orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan sesuatu yang diyakini jelek oleh orang Islam, maka jelek pula di sisi Allah”. (HR. Ahmad)

Kedelapan, perayaan maulid adalah bid’ah karena tidak ada pada zaman Rasulullah SAW, tetapi bid’ah hasanah (baik) bukan tercela, karena masih sesuai dengan dalil syar’i dan kaidah-kaidah umum syariat Islam.

Perayaan Maulid Nabi termasuk bid’ah jika dipandang dari bentuknya secara umum, dan tidak termasuk bid’ah jika dipandang dari segi satuannya, karena terdapat pada zaman Rasulullah, seperti anjuran membaca al-Quran dan bershalawat kepada Rasulullah SAW.

Kesembilan, tidak semua yang tidak dilakukan generasi salaf dan generasi awal disebut bid’ah tercela yang harus diingkari dan haram dilakukan.  Akan tetapi, mesti diagnosis terlebih dahulu dan disingkronkan dengan dalil-dalil hukum syariat. Jika suatu tersebut mengandung maslahat, maka mesti dikerjakan; jika membawa mudarat maka mesti ditinggalkan; tersebab, lil wasâ’il hukmul-maqâshid.

Kesepuluh, tidak semua bid’ah itu sesat dan tercela. Andai demikian, maka langkah Sayidina Abu Bakar dan Umar perihal pengumpulan al-Quran dalam satu mushahaf merupakan sautu yang dilarang (baca: haram). Pun, dengan tindakan Sayidina Umar yang menjamaahkan salat terawih, padahal beliau menimpali, “Inilah sebaik-baiknya bid’ah.”

 

Kritik terhadap Argumentasi Wahabi  

Tiga argumen Wahabi di atas ghalib dijadikan dasar guna menyerang perayaan maulid Nabi SAW. Sungguh pun demikian, ketiga argumen di atas tidaklah tepat dan juga tidak memiliki pendukung yang kuat baik dari aspek teks (naql) maupun dari aspek akal.

Argumen pertama tidak tepat karena tidak semua yang tidak dilakukan Rasulullah SAW, para shahabat, tabi’in, dan imam mujtahid adalah bid’ah tercela yang mesti dilarang. Tidak semua bid’ah itu tercela, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Dengan demikian, kita tidak bisa sekonyong-konyong memvonis setiap hal baru dalam agama adalah bid’ah tercela dan sesat. Tindakan pertama yang mesti kita lakukan adalah mensingkronkan hal baru tersebut dengan dalil-dalil dan kaidah-kaidah syariat yang ada. Jika hal baru tersebut masih di bawah payung keumuman suatu dalil, maka tidak boleh diingkari dan  dilarang. Sebaliknya, jika hal baru tersebut tidak memiliki payung dalil yang legal maka kita mesti mengingkari dan melarangnya.

Sementara itu, isi dan subtansi perayaan maulid adalah pembacaan ayat-ayat al-Quran, bershalawat, dan pengkisahan sejarah Rasulullah SAW., yang mana hal tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan nas-nas syariat dan justru bernaung di bawah payung keumuman nas syariat. Sampai di sini jelas lah bahwa perayaan maulid Nabi SAW bukanlah bid’ah tercela dan terlarang, meski tidak sunah, menimal hukumnya adalah mubah alih-alih bid’ah dhalâlah.

Kemudian, tuduhan Wahabi bahwa perayaan maulid merupakan manifestasi dari penyucian dan pengagungan berlebihan hingga dikhawatirkan umat Islam menganggap Nabi SAW sebagai Tuhan bukan manusia biasa yang menjadi utusan Allah adalah tidak benar dan sebuah kekhawatiran ngawur yang mengada-ngada. Tersebab, perayaan maulid merupakan manifestasi penghormatan, ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW., dan sebagai ekpresi syukur kepada Allah SWT atas rahmat (Nabi Muhammad) yang telah Ia anugerahkan. Perayaan dengan tujuan seperti itu legal dalam syariat Islam.

Di samping itu, penghormatan, ungkapan kecintaan, dan rasa syukur tidak mungkin menyebabkan umat Islam salah persepsi sehingga men-Tuhankan Nabi SAW. Andai mungkin menyebabkan seperti itu, maka Allah SWT tidak akan pernah memerintah kita memuliakan dan mencintai Nabi Muhammad SAW.  Namun kenyataannya, Allah justru memerintah kita memuliakan dan mencintai Rasulullah SAW, yang hal itu menunjukkan bahwa penghormatan, ungkapan kecintaan kepada beliau adalah legal belaka bukan bid’ah tercela yang terlarang.

Mengenai hadis riwayat Imam Bukhari yang berisi larangan Nabi SAW memuji beliau di atas, Wahabi salah dalam menginterpretasikannya atau memang sengaja menginterpretasikan dengan salah. Dalam hadis dimaksud sangat jelas sejelas sinar bulan purnama bahwa Nabi SAW melarang umatnya memuji dirinya sebagaimana umat Nasrani memuji Nabi Isa as, yaitu dengan menjadikannya Tuhan atau anak Tuhan. Hal tersebut sangat berbeda dengan perayaan maulid yang hanya melontarkan pujian dan bershalawat tanpa men-Tuhan kan Nabi SAW.

Al-hâshil, hukum asal perayaan maulid Nabi SAW adalah menimal mubah bahkan bisa jadi sunnah, alih-alih bid’ah dhalâlah. Karena hukumnya mubah, maka perayaan maulid harus terjaga dari hal-hal eksternal yang negatif dan dilarang syariat, seperti berbaurnya laki-laki dan perempuan dalam satu majlis. Pun, dalam merayakannya mesti menjaga sopan santun dan adab sebagai manisfestasi penghormatan terhadap Nabi SAW., dan menjaga  kemuliaan beliau. Berpakaian yang baik dan wangi serta tidak merokok saat pembacaan shalawat atau maulid sedang berlangsung.

Penulis: Moh. Nadi el-Madany, Putra Bangkalan yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Editor: M. Abbas Busro

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.