banner 468x60

KRITIK TERHADAP FIQH WAHABI #2: Menggoyangkan Telunjuk Saat Tasyahud, Sunah?

 ARTIKEL
banner 468x60

Entah apa tujuannya, yang jelas orang-orang Wahabi lebih suka nyeleneh dan bersebrangan dengan mayoritas umat Islam. Demi tampil nyeleneh dan berbeda mereka rela memanipulasi dalil dan menjadikannya sebagai dalil hukum meski tidak layak sama sekali. Di antaranya adalah mengenai hukum menggoyangkan jari telunjuk saat tasyahud. Menurut mereka, yang sunah saat isyarah dalam tasyahud adalah menggoyangkan jari telunjuk hingga salat usai.

Pendapat Wahabi tersebut berbeda sama sekali dengan pendapat mayoritas ulama fiqh. Mayoritas ulama fiqh menyatakan bahwa menggoyangkan jari telunjuk saat tasyahud tidak sunnah dengan berdasarkan pada beberapa hadis Nabi SAW.

Wahabi berpendapat bahwa selalu menggoyangkan jari telunjuk saat tasyahud merupakan sunah yang diteladankan Nabi SAW. Syekh Albani dalam kitab Shifatu-shalah al-Nabi (169-170) menegaskan, “Bahwa yang sunah adalah selalu menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud hingga salam, karena doa dikerjakan sebelumnya. Ini sesuai dengan Mazhab Maliki dan yang lain, juga sesuai dengan apa yang dipraktikkan Imam Ahmad bin Hambal.”

 

Hadis yang dijadikan payung hukum oleh Wahabi adalah sebagaimana berikut:

  • Hadis yang diriwayatkan dari Wa’il bin Hajr bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW menggerakkan (yuharrik) jarinya saat berdoa dengannya.” (HR. Abu Daud, Imam Nasa’i, dan Ibnu Majah).
  • Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh jari telunjuk lebih ditakuti setan daripada besi.”
  • Selain hadis di atas, Albani mengklaim bahwa Imam Ahmad melakukan hal yang serupa. Yang dijadikan dasar klaim Albabi tersebut adalah riwayat dari Ibnu Hani’ bahwa Imam Ahmad ditanya, “Apakah saat salat mesti berisyarah dengan jari telunjuk?” Imam Ahmad menjawab, “Ya. Betul sungguh demikian (na’am syadîdan).” Dia juga mengklaim bahwa Imam Malik dan yang lain berpendapat serupa.

Menurut Syekh Abdul Qadir Isa Diyab dalam kitab al-Mîzan al-‘Âdil, pendapat serta dasar-dasar yang digunakan Wahabi di atas adalah tidak tepat dan ngawur. Pertama, mereka mengartikan kalimat yuharrik dengan dawâmu-tahrîk (selalu menggerakkan), padahal arti kalimat tersebut masih ambigu sehingga butuh pada dalil lain yang menjelaskan arti sebenarnya. Dan, tidak ada dalil lain yang menyatakan bahwa arti dari kalimat yuharrik dalam hadis dimaksud adalah dawâmu-tahrîk. Yang ada justru hadis yang menerangkan sebaliknya.

Ibnu Zubair meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW berisyarah dengan jari telunjuknya dan tidak menggerakkannya (HR. Ahmad). Hadis Ibnu Zubair ini memberi pengertian bahwa arti kalimat yuharrik di atas adalah isyarah bukan dawâmu-tahrîk.

Imam al-Baihaqi juga mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan, “Ada kemungkinan yang dimaksud dengan kalimat yuharrik adalah isyarah bukan dawâmu-tahrîk sehingga tidak bertentangan dengan hadis Ibnu Zubair.” (As-Sunan al-Kubra, 2/189).

Mengenai hadis kedua yang dijadikan dalil Wahabi sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembahasan tahrîk. Hadis tersebut sekedar menginformasikan bahwa melakukan isyarah dengan jari telunjuk saat tasyahud lebih ditakuti setan daripada dentuman besi. Tidak ada sangkut pautnya dengan masalah tahrîk.

Imam al-Baihaqi dalam kitab sunannya menulis hadis serupa yang ada kaitannya dengan tahrîk, akan tetapi oleh beliau dan ulama hadis lain hadis tersebut dinilai lemah (dhaîf) sehingga tidak dapat dijadikan dasar pengambilan hukum. (As-Sunan al-Kubra, 2/190).

Kemudian, klaim Albani yang menyatakan bahwa Imam Ahmad selalu menggerakkan telunjuk saat tasyahud juga tidak tepat dan merupakan kesalahan Albani di dalam memahami perkataan Imam Ahmad (na’am syadîdan). Sebaliknya, Imam Ahmad berpendapat bahwa menggoyangkan jari telunjuk saat tasyahud tidak sunnah.

Imam Ibnu Qadamah, ulama kenamaan Mazhab Hambali, menegaskan, “Orang yang salat berisyarah dengan jarinya serta mengangkatnya ketika menyebut nama Allah SWT saat tasyahud dan tidak (perlu) menggerakkannya, karena seperti yang diriwayatkan Ibnu Zubair bahwa Rasulullah SAW berisyarah dengan jarinya dan tidak menggerkkannya.” (Al-Mughni, 1/446).

Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i senada dengan pendapat Mazhab Imam Ahmad bahwa saat isyarah dalam tasyahud tidak perlu menggoyangkan jari telunjuk. Namun demikian, Mazhab Maliki berpendapat berbeda bahwa saat tasyahud jari telunjuk digerakkan ke kanan dan ke kiri dengan perlahan. (al-Fiqh alâ al-Madzâhib al-Arba’ah, 1/239-240)

Pendapat mayoritas ulama fiqh di atas didasarkan pada beberapa hadis berikut:

  1. Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Imam Nasa’i, dan lainnya dari Ibnu Zubair yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW berisyarah dengan jari telunjuknya dan tidak menggerakkannya. Dalam kitab Syarh al-Muhadzab, Imam Nawawi menilai sanad hadis tersebut shahih dan Imam Ibnu Hiban serta yang lain menshahihkan hadis tersbut.
  2. Hadis riwayat Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Ahmad, dan Imam Thabrani dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengepalkan jari-jarinya dan berisyarah dengan jari telunjuknya.
  3. Imam Muslim juga meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW meletakkan tangan kanan beliau di atas lutut kanan dan berisyarah dengan jari telunjuknya.

Hadis kedua dan ketiga dengan tegas menyatakan bahwa Rasulullah SAW berisyarah dengan jari telunjuknya dan hadis pertama menjelaskan bahwa beliau tidak menggerakkan jari telunjuknya.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa, 1) tidak benar bahwa yang sunah hanya menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud dan tidak menggerakkannya adalah bid’ah, dan 2) tidak benar klaim Albani bahwa mayoritas ulama fiqh berpendapat yang sunah adalah menggoyangkan jari telunjuk saat tasyahud. Meskipun Imam Malik berpendapat digerakkan ke kanan dan ke kiri secara perlahan, tetapi pendapat beliau tetap tidak sama dengan pendapat Albani di atas yang memutlakkannya dan dilakukan hingga salam.

Oleh karena itu, dapat ditegaskan di sini bahwa masalah menggerakkan atau tidak menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud masuk dalam ranah khilâfiyah yang tidak seharusnya diingkari, sebagaimana yang dilakukan Albani. Kaidahnya adalah lâ yunkaru al-mukhtalaf fîh wa innamâ yunkaru al-muttafaq alaih. Bahwa, yang masih diperselihkan ulama tidak boleh kita ingkari, hanya yang telah disepakati yang boleh kita ingkari.

Selain itu, jika kita lihat dari aspek dalil yang dibuat dasar masing-masing kubu, dalil milik mayoritas ulama –yang mengatakan tidak sunah menggerakkan jari telunjuk saat tasyahud, jauh lebih kuat, baik dilihat dari aspek kuantitas maupun kualitasnya, sedangkan dalil yang digunakan Mazhab Maliki dan Wahabi hanya satu hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Wa’il di atas, terlebih ada ulama yang menilai dhaif kualitas hadis dimaksud. Dari situ, bisa kita katakan bahwa yang rajîh adalah pendapat mayoritas ulama.

Selain itu, Albani mengkritik perihal waktu dan tempat isyarah yang selama ini dipraktikkan umat Islam. Ia berkata, “Penentuan isyarah pada saat menegasikan dan menetapkan (yaitu, saat membaca lâ ilaha illallâh) sama sekali tidak memiliki dasar dari sunah bahkan hal tersebut menyalahi sunah.”

Sekali lagi, klaim dan pendapat Albani di atas adalah tidak benar dan ngawur. Imam ash-Shan’ani dalam kitab Subul-as-Salâm berkata, “Tempat isyarah adalah ketika mengucapkan kalimat lâ ilaha illallâh oleh karena hadis yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi tentang perbuatan Nabi SAW.” (Subul as-Salâm, 1/189).

Para imam mazhab juga memiliki pendapat yang senada, mereka hanya berbeda soal waktu mengangkat dan menurunkan kembali jari telunjuk. Mazhab Syafi’i, Hambali, dan Maliki mengatakan bahwa jari telunjuk mulai diangkat ketika mengucapkan kalimat illallâh dan diturunkan kembali ketika rampung pembacaan kalimat syahadat. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa jari telunjuk diangkat ketika mengucapkan (menegasikan) dan diturunkan ketika mengucapkan illâ (menetapkan). (al-Mizan al-‘Adil, 240).

Penulis: Moh. Nadi el-Madany, Putra Bangkalan yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Editor: Mukhtar Syafaat

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.