banner 468x60

KRITIK TERHADAP FIKIH WAHABI #3: Ada Apa dengan Nishfu Sya’bân?

 ARTIKEL
banner 468x60

Di antara kontroversi paling hebat antara Wahabi dan Ahlusunah Waljamaah adalah mengenai tradisi malam nishfu sya’bân, yaitu malam tanggal 15 Sya’ban. Pada malam tersebut mayoritas umat Islam memperbanyak diri melakukan ibadah semacam berzikir, berdoa, salat, dan membaca Alquran serta berpuasa siang harinya.

Menurut Wahabi, tradisi pada malam nishfu sya’bân tersebut adalah tidak benar, termasuk bid’ah sesat yang tidak pernah diteladankan Rasulullah SAW dan hadis-hadis yang dijadikan dasar pun kebanyakan lemah (dha’îf) yang tidak layak dibuat dasar hukum.

Berbeda dengan Wahabi, mayoritas ulama Ahulusunah Waljamaah menganggap tradisi malam nishfu sya’bân sebagai sebuah kesunahan. Malam tersebut adalah malam pengampunan (al-lailah al-maghfîrah) dan pernuh berkah serta malam istijâbah di mana doa mudah dikabulkan.

Ulama Ahlusunah mengakui dengan inshaf bahwa kebanyakan hadis tentang keutamaan nishfu sya’bân adalah lemah, tetapi mereka tetap menganjurkan meramaikannya dengan berbagai aktivitas ibadah. Lo kok?

Peristiwa Besar pada Bulan Sya’ban

Pada Bulan Sya’ban banyak terjadi peristiwa besar dan bersejarah yang menjadikan bulan ini sebagai salah satu bulan mulia yang patut dirayakan dengan kegiatan-kegiatan positif bernilai ibadah. Keutamaan suatu masa dipengaruhi oleh terjadinya suatu peristiwa bersejarah di dalamnya, termasuk Bulan Sya’ban. Pun, Bulan Rabi’ul Awal dianggap istimewa karena pada bulan tersebut Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Pertama, perpindahan arah kiblat. Pada mulanya, kiblat umat Islam adalah Bait al-Maqdis, tetapi pada Bulan Sya’ban Allah SWT mengabulkan keinginan Nabi SAW memindah kiblat ke Ka’bah. Dikisahkan dalam Alquran (Al-Baqarah: 144) bahwa Nabi begitu mengimpikannya sejak lama, setiap hari beliau selalu melihat ke langit menunggu titah (wahyu) Allah SWT untuk mengabulkan keinginannya.

Abu Hatim al-Basty berkata, “Umat Islam salat menghadap Bait al-Maqdis selama tujuh belas bulan tiga hari, sebab Nabi SAW datang ke Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal. Perintah Allah SWT agar menghadap ke Ka’bah terjadi pada hari Selasa pertengahan Bulan Sya’ban.” (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2/150).

Kedua, penyetoran nilai amal perbuatan. Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat Anda berpuasa pada bulan-bulan lain sebagaimana Anda berpuasa pada Bulan Sya’ban?

Rasulullah SAW menjawab, “Bulan Sya’ban adalah bulan di antara Bulan Rajab dan Ramadan yang sering kali terlupakan, padahal pada bulan tersebut nilai setiap amal perbuatan diberikan kepada Allah. Dengan alasan itu, aku lebih senang amal perbuatanku disetorkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Al-Nasa’i)

Menurut Sayid Muhammad al-Maliki, penyetoran nilai amal perbuatan tidak hanya di Bulan Sya’ban, sebab banyak hadis lain yang menerangkan hal serupa pada bulan yang lain. Pada setiap momen penyetoran amal tersebut memiliki hikmah tersendiri. (Mâdzâ fî Sya’bân, 11). 

Ketiga, menampakkan takdir umur. Diriwayatkan dari Siti Aisyah bahwa Rasulullah SAW berpuasa secara penuh pada Bulan Sya’ban. Lantas beliau bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah Anda lebih senang berpuasa pada Bulan Sya’ban?,” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah menulis di dalamnya setiap orang yang akan mati pada tahun tersebut, karenanya aku lebih senang ajalku tiba saat aku sedang berpuasa.” (HR. Abu Ya’la).

Keempat, bulan salawat. Demikian itu karena surah al-Ahzab ayat 56 yang mengandung perintah bersalawat kepada Nabi turun pada Bulan Sya’ban, seperti disebutkan Imam Ibnu Abi ash-Shaif al-Yamani dan Imam al-Qasthalani. (Mâdzâ fî Sya’bân, 26)

 

Malam Nishfu sya’bân

Umat Islam menganggap malam nishfu sya’bân sebagai malam mulia nan penuh berkah. Pada malam tersebut Allah SWT menampakkan maghfîrah dan rahmat-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang yang minta pengampunan dan merahmati yang meminta rahmat kepada-Nya. Pada malam tersebut doa mudah dikabulkan, ahli neraka diselamatkan dan Allah SWT menuliskan riski serta amal perbuatan kita.

Oleh karena itu, pada malam nishfu sya’bân umat Islam mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan, baik secara kolektif maupun individual, seperti berdoa bersama di masjid, tadarus Alquran, berzikir dan lain sebagainya.

Mayoritas ulama menganggap kegiatan-kegiatan tersebut sebagai sebuah kesunahan yang amat dianjurkan kita lakukan. Di samping berpayung di bawah keumuman nas syariat, para ulama juga berpedoman kepada beberapa hadis berikut:

1)     Al-Thabrani dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah akan melihat kepada hamba-hamba-Nya pada malam nishfu sya’bân, Dia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang munafik.”

Imama al-Haitsami menilai para perawi hadis di atas tsiqah (terpecaya) dan menilainya sebagai hadis shahih tsabit, sehingga dengan satu hadis ini saja sudah cukup sebagai legitimasi atas kegiatan-kegiatan keagamaan pada malam nishfu sya’bân. (Lailah al-Nishf min Sya’bân, 35).

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abdullah bin Amr hadis senada subtansinya dengan hadis di atas, tetapi sanadnya dinilai layyin oleh Imam al-Hafiz al-Mundziri. (Mâdzâ fî Sya’bân, 67).

Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari yang serupa dengan hadis di atas, namun dalam salah satu rawi terdapat Aiman al-Kalbi yang tidak diketahui identitas. Imam Al-Dzahabi berkata, “Tidak diketahui siapa dia?”

2)     Al-Thabrani dan Al-Baihaqi meriwayatkan melalui jalur Imam Makhul dari Abi Tsa’labah al-Khusyni bahwa Nabi bersabda, “Allah akan melihat kepada hamba-hamba-Nya pada malam nishfu sya’bân, ia akan mengampuni orang mukmin dan tidak menghiraukan orang kafir serta membiarkan orang yang dengki dengan kedengkiannya hingga ia meninggalkannya.” Imam al-Baihaqi menyebut hadis ini sebagai hadis mursal yang bagus (mursalun jayyidun).

3)     Al-Daraquthni, Ibnu Syahin, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Sayidina Ali. Beliau berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Ketika tiba malam nishfu sya’bân maka hidupkan lah malamnya (dengan berbagai aktivitas ibadah) dan berpuasa lah pada siangnya, karena sesungguhnya mulai matahari terbenam Allah turun pada malam tersebut ke langit dunia dan berkata, “Ketahuilah! Orang yang meminta mengampunan akan Aku ampuni; orang yang meminta rizki, akan Aku beri; orang yang sakit akan Aku sembuhkan”, hingga fajar menyinsing.” Sanad hadis ini lemah (dha’îf).

4)     Masih banyak hadis lain yang menjelaskan tentang keutamaan ibadah di malam nishfu sya’bân dengan kualitas yang beragam, ada yang mursal, lemah, sangat lemah, dan bahkan ada yang maudhu’.

Pandangan Wahabi

Bila dikerucutkan, Wahabi memiliki tiga pandangan umum menyangkat tradisi ibadah pada malam nishfu sya’bân.

Pertama, mereka menganggap berdoa, dan berzikir di masjid secara kolektif pada malam nishfu sya’bân sebagai perbuatan bid’ah tercela dan sesat menyesatkan sehingga pelakunya layak berada di neraka!

Kedua, Wahabi mengatakan doa yang biasa kita baca pada malam nishfu sya’bân tidak memiliki dasar sama sekali, bahkan subtansi sebagian doa dimaksud dianggap mungkar serta bertentangan nas syariat. Yang dikehendaki adalah doa yang meminta agar Allah mengubah catatan di ummul-kitâb (al-Lauh al-Mahfûzh). Menurut mereka, apa yang ada di dalam ummul-kitâb tidak dapat diubah lagi, dengan dihapuskan atau ditetapkan kembali.

Ketiga, Wahabi berpendapat aktivitas ibadah pada malam nishfu sya’bân dan puasa pada siang harinya sama sekali tidak masyrû’ (dilegalkan syariat), tersebab hadis-hadis yang dijadikan pijakan, menurut mereka, sangat lemah sehingga tidak layak dibuat dasar hukum meski termaktub dalam kitab-kitab fikih.

Replik terhadap Pandangan Wahabi

Dakwa Wahabi bahwa berdoa, berzikir, dan membaca Alquran di masjid secara kolektif pada malam nishfu sya’bân dianggap sebagai bid’ah tercela adalah tidak benar, sebab semacam itu sudah dipraktikkan sejak generasi salaf.

Syekh Al-Ghumari menyatakan bahwa ulama Syam berbeda pendapat mengenai tatacara beribadah pada malam nishfu sya’bân. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan yang lain berpendapat sunnah melakukannya secara kolektif di masjid. Pendapat senada di sampaikan Ishaq bin Rahawiyah, beliau menegaskan, “Melakukannya secara kolektif (berjamaah) bukanlah bid’ah.”

Sebagian ulama lain –di antaranya adalah Imam al-Auza’i, berpendapat makruh melakukannya secara kolektif dan tidak makruh melakukannya secara individu.

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang jelas beribadah pada malam nishfu sya’bân, bagaimana pun bentuknya, bukan lah bid’ah tercela sebagaimana tuduhan Wahabi. Berdoa, berzikir, dan membaca Alquran sama-sama bisa dilakukan secara berjamaah maupun individu, tidak hanya tertentu pada malam nishfu sya’bân tetapi juga pada malam dan bulan yang lain. (Husnu al-Bayân, 10).

Imama Syafi’i berkata, “Sesungguhnya, doa mudah dikabulkan pada lima malam, malam Jum’at, hari raya kurban, hari raya fitri, awal malam Bulan Rajab, dan malam nishfu sya’bân.”

Klaim Wahabi bahwa doa yang biasa kita baca pada malam nishfu sya’bân tidak memiliki dasar sama sekali adalah tidak tepat. Sebab, pertama, doa yang kita panjatkan tidak harus melulu dan terpaku pada doa yang pernah dipanjatkan Nabi SAW. Dengan kata lain, kita boleh membuat doa sendiri senyampang subtansinya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam.

Kedua, sebagian doa tersebut ada yang dipanjatkan Nabi SAW sebagaimana dalam hadis panjang riwayat Al-Baihaqi dari Siti Aisyah dan juga terdapat doa yang warid dari Sayidina Umar dan Ibnu Mas’ud. Perkerjaan para shahabat adalah sunnah senyampang tidak bertentangan dengan nas syariat. (lihat: Mâdzâ fî Sya’bân,102-107).

Kritik Wahabi yang menyatakan sebagian doa nishfu sya’bân mengandung subtansi yang bersebrangan dengan nas syariat adalah tidak benar. Sebab, seperti dalam hadis di atas, Nabi SAW melakukan puasa pada Bulan Sya’ban karena pada bulan ini ajal ditulis, amal perbuatan diangkat, dan ketentuan rizki ditetapkan.

Oleh karena itu, Ikrimah dan ulama tafsir lain menafsiri firman Allah berikut dengan malam nishfu sya’bân: “Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Al-Dzukhan [44]: 3-4).

Pendapat Imam Ikrimah di atas diperkuat beberapa hadis meskipun hadis dimaksud mayoritas lemah. Dengan demikian, meminta (berdoa) pada malam nishfu sya’bân merubah catatan buruk menjadi baik, sulit menjadi mudah, dan merubah ajal sama sekali tidak bertentangan dengan nas syariat.

Akan tetapi, mayoritas ulama tidak sependapat dengan Ikrimah dan menyatakan bahwa yang dimaksud malam yang diberkahi dalam surat al-Dzukhan di atas adalah lailatul-qadr bukan malam nishfu sya’bân. Sebab, setelah itu Allah berfirman, “Sungguh Kami turunkan Alquran pada lailutul-qadr.” (QS. Al-Qadr [97]:1).

Ulama berusaha mencari titik temu kedua pendapat tersebut dengan merekonsiliasinya (al-jam’u), sebab ada atsar dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menentukan setiap ketentuan pada malam nishfu sya’bân dan menyerahkan kepada yang bertugas pada lailatul-qadr.”

Berarti, Allah menentukan setiap sesuatu yang dikehdaki-Nya pada malam nishfu sya’bân dan ketika lailatul-qadr tiba, Dia menyerahkan kepada malaikat yang bertugas. Soal kematian, diserahkan kedapa malaikat maut. Urusan rizki, diserahkan kepada malaikat yang bertugas mengurus rizki, dan seterusnya.

Di samping itu, dalam surat al-Dzukhan di atas, Allah menggunakan kata “yufraqu” bukan kata “yuqdha/yuktab” sehingga memberi pengertian bahwa ketentuan-ketentuan Allah diserahkan kepada malaikat yang bertugas pada lailatul-qadr. (Husnu al-Bayân, 20-23).

Penjelasan di atas juga sekaligus membantah klaim Wahabi bahwa apa yang ada dalam ummul-kitâb tidak dapat diubah kembali. Allah SWT tidak pernah menegaskan bahwa apa yang ada dalam ummul-kitâb tidak dapat dihapus dan ditetapkan kembali; yang ada Allah justru berfirman, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya lah terdapat ummul-kitâb.” (QS. Al-Ra’d [13]: 39).

Ada beragam interpretasi atas ayat di atas. Pertama, Ibnu Abbas, Imam Waki’, Imam ats-Tsauri, Imam Mujahid dan yang lain berpendapat bahwa Allah menghapuskan dan menetapkan apa saja yang Dia kehendaki, kecuali soal ajal, kesengsaraan, dan kebahagiaan. Menurut mereka, ketiga hal tersebut tidak dapat diubah dan di-up date.

Imam Al-Qurthubi dalam al-Jâmi’ li Ahkâm al-Quran menyangsikannya dan berkata, “Pernyataan tersebut terlalu mamaksakan. Sejatinya, hal tersebut tidak bisa diketahui dengan akal dan ijtihad melainkan butuh pada tauqîfi (wahyu), jika tidak ada maka arti ayat tersebut umum mencakup semua hal.”

Kedua, Sayidina Umar bin Khathab, Ibnu Mas’ud, Abu Wa’il, Ka’ab al-Ahbar dan yang lain berpendapat bahwa penghapusan dan penetapan dalam ayat dimaksud mencakup segala hal, termasuk soal ajal, kesengsaraan, dan kebahagiaan. Bahkan, Sayidina Umar saat thawaf sering berdoa begini, “Ya Allah, jika Engkau tulis kesengsaraan terhadap hamba maka hapuskan lah –sebab Engkau menghapuskan dan menetapkan apa yang Engkau kehendaki dan di sisi Engkau ummul-kitâb; jadikanlah kebahagiaan dan pengampunan.”

Dengan demikian, banyak shahabat dan ulama yang menyatakan bahwa penghapusan dan penetapan dimaksud mencakup segala hal, baik soal ajal, sengsara, bahagia, dan rizki. Terlebih, pendapat kedua didukung oleh beberapa hadis sebagaimana telah disebutkan di atas, sedangkan pendapat pertama murni berdasar akal dan ijtihad.  

Selain itu, ada yang mengkritik pembacaan surat yasin pada malam nishfu sya’bân dengan menyelipkan permintaan tertentu yang bersifat duniawi, semacam umur panjang nan berkah, dan bertambahnya rizki.  Menurut mereka, perbuatan semacam itu tidak sah dan batil karena tidak ikhlas serta demi tujuan duniawi.

Sayid Muhammad al-Maliki tidak setuju dengan pandangan tersebut, menurut beliau, tidak masalah membaca yasin (juga ibadah dan bacaan yang lain) dengan menyelipkan permintaan bersifat duniawi alih-alih haram atau bid’ah. Salah satu bukti konkrit dan tidak terbantahkan, menurut beliau, adalah disyariatkannya salat istikharah. Salat harus dikerjakan dengan ikhlas tetapi hal itu tidak menegasikan penambahan motif duniawi sebagaimana dalam salat istikharah. Beliau juga memaparkan dalil-dalil pendukung baik berupa hadis maupun atsar. Lebih lengkapnya rujuk kitab, Mâdzâ fî Sya’bân.

Mengenai pernyataan wahabi bahwa kegiatan ibadah pada malam dan sinag nishfu sya’bân tidak legal (ghairu masyrû’) disebabkan hadis-hadis yang dijadikan pijakan dinilai sangat dha’îf adalah tidak tepat. Karena, pertama, tidak semua hadis terkait nishfu sya’bân lemah, ada yang hasan dan ada yang mursal seperti disingung di muka.

Hadis hasan jelas dapat dibuat dasar hukum, untuk hukum halal-haram sekalipun. Pun, dengan hadis mursal meski ada ulama yang memberi syarat tertentu –seperti Imam Syafi’i yang hanya menerima hadis mursalnya Ibnu Musayyib, sedangkan ulama yang ada yang tidak membatasinya.

Kedua, andai semua hadis tersebut dha’if semua juga tidak masalah, tersebab hadis dha’îf dapat dijadikan dasar dalam fadhâ’il al-a’mâl (perbuatan baik yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum halal-haram) selagi memenuhi persyaratan yang ditetapkan ulama, yaitu tidak terlalu dha’îf dan masih di bawah naungan keumuman suatu nas, seperti ditekankan Ibnu Abdissalam dan Ibnu Daqiq al-‘Id.  

Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Para imam hadis, fuqaha dan yang lain, sebagaimna disampaikan Imam Nawawi, sepakat atas kebolehan mengamalkan dan menjadikan hadis dha’îf sebagai dasar dalam fadhâ’il-a’mâl, targhîb dan tarhîb, bukan dalam hukum halal-haram, dengan catatan tidak terlalu leman.”

Ketiga, dalam kajian ilmu hadis, hadis-hadis dha’îf yang memiliki penopang (syawâhid) derajatnya dapat dinaikkan menjadi hasan li ghairihi, sehingga hadis tersebut sah dibuat dasar hukum, untuk hukum halal-haram sekalipun.

Kesimpulan

  1. Tradisi doa, zikir, dan lain-lain secara kolektif di masjid pada malam nishfu sya’bân tidak termasuk bid’ah yang tercela melainkan termasuk perbuatan yang terpuji dan sangat dianjurkan, sebab aktivitas tersebut tidak bertentangan sama sekali dengan prinsip-prinsip dasar syariat Islam.
  2. Subtansi sebagian doa malam nishfu sya’bân sama sekali tidak bertentangan dengan nas-nas syariat yang ada. Bahkan, doa-doa dimaksud ma’tsûr dari para shahabat antara lain Sayidina Umar bin Khathab dan Ibnu Mas’ud.
  3. Pendapat yang rajîh adalah yang menyebutkan bahwa apa yang ada dalam ummul-kitâb bisa diubah, baik dihapuskan atau ditetapkan. Penghapusan dan penetapan tersebut mencakup segala hal, berupa ajal manusia, nasib buruk dan baik, serta takaran rizki. Pendapat ini berdasarkan keumuman firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 39 di atas serta dukungan beberapa hadis Nabi SAW.
  4. Ke-dha’îfan beberapa hadis tentang malam nishfu sya’bân tidak bisa dijadikan justifikasi ketidakbolehan melakukan aktivitas ibadah tertentu pada malam tersebut, karena selain terdapat hadis yang berderajat hasan juga hadis dha’îf boleh dijadikan dasar dalam fadhâi’l-a’mâl, ditambah derajat hadis-hadis tersebut bisa meningkat menjadi hadis hasan li ghairihi.
  5. Menjadikan malam nishfu sya’bân secara khusus melakukan beberapa aktivitas ibadah, bersedekah, berziyarah, dan berdoa adalah legal dan sangat dianjurkan, sebab malam terebut adalah malam maghfîrah, rahmah, dan mustajâbah.

 

Penulis: Moh. Nadi el-Madany, Putra Bangkalan yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Editor: Mukhtar Syafaat

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.