banner 468x60

KRITIK TERHADAP FIQH WAHABI #4: Haram Berzikir Menggunakan Biji Tasbih?

 ARTIKEL
banner 468x60

Prolog

Syariat Islam itu luwes, fleksibel, adaptif, dan mudah. Tidak kaku, statis, dan ruwet. Ia sama sekali tidak anti terhadap semua hal baru dan terbarukan (al-jadîd wa al-mustajaddah). Sebaliknya, ia akan menerima dan mengakui sebagai bagian darinya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dan fundamental, meskipun hal tersebut tidak memiliki nas spesifik.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan, “Segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariat, maka ia bagian dari syariat meskipun tidak spesifik termaktub secara tekstual.” (Al-Thuruq Al-Hukmiyah, 12).

Adalah tidak tepat kita menolak semua hal baru dan terbarukan hanya dengan alasan tidak ditemukan teksnya secara spesifik atau karena tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW dan para shahabat. Tindakan semacam itu dapat merusak karakter fundamental syariat Islam yang bernuansa mudah dan fleksibel. Termasuk dalam kaitannya adalah menggunakan biji tasbih sebagai alat hitung saat berzikir.

Pada masa Rasulullah SAW dan para shahabat tasbih belum ada dan ditemukan. Dengan alasan tersebut, saat berzikir Rasulullah dan para shahabat menghitungnya dengan menggunakan jari-jari tangan (al-‘anâmil), biji-bijian dan kerikil. Fakta tersebut oleh sebagian umat Islam disalah artikan dan dijadikan sebagai justifikasi membid’ahkan penggunaan tasbih sebagai sarana pembantu menghitung zikir, seperti yang lumrah dilakukan mayoritas umat Islam.

Lantas, bagaimanakah hukum sebenarnya menggunakan tasbih sebagai alat bantu ketika berzikir?

Persepsi Wahabi

Orang-orang Wahabi mengharamkan tasbih sebagai alat bantu menghitung jumlah zikir, sebab perbuatan seperti itu tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW sehingga masuk katagori bid’ah. Perbuatan bid’ah apapun, menurut mereka,  adalah sebuah kesesatan yang tidak boleh dilakukan.

Mahmud Mahdi al-Wahabi berkata, “Al-misbahah (tasbih) adalah bid’ah yang mungkar serta merupakan produk yang berasal dari orang-orang Kristen. Pun, hadis yang menerangkan tentang tasbih adalah palsu (muadhû’). Orang yang menggunakan tasbih hanyalah orang yang hobi pamer (riyâ’) dan munafik.” (al-Mîzan al-‘Âdil, 260).

Al-Albani pun berkata, “Inilah sunah dalam hal menghitung dzikir yang disyariatkan, yaitu hanyalah dengan tangan, bagian kanan saja. Sedangkan menghitung dengan kiri atau dua tangan bersamaan, atau dengan batu-batu kecil, maka semua itu bertentangan dengan sunah. Tidak ada yang shahih satu pun tentang menghitung dzikir dengan batu-batu kecil yang tersusun seperti biji tasbih.” (As-Silsilah Al-Dhaîfah, 3/47).

Dalil-dalil yang mereka jadikan pijakan utama adalah sebagaimana berikut:

  1. Hadis riwayat dari Ibnu Umar bahwa dia berkata, “Saya melihat Rasulullah SAW bertasbih dengan (jari-jari) tangan kanannya.” (HR. Abu Daud).
  2. Hadis yang diriwayatkan dari Yusairah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Hendaklah kalian bertahlil, bertasbih, dan bertaqdis, dan hitunglah dengan ujung jari-jemari, karena kelak akan ditanya dan menjadi saksi.” (HR. Ahmad).
  3. Mereka mengatakan bahwa berzikir dan cara menghitungnya merupakan bagian ibadah yang bersifat tauqîfi, sehingga harus sama persis dengan yang pernah  dilakukan Nabi SAW yaitu menghitungnya dengan jari-jemari, bukan dengan tasbih (subhah). Menggunakan tasbih tidak boleh oleh karena kita tidak diperbolehkan melakukan sesuatu ibadah yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW. Orang yang melakukan ibadah yang belum pernah dilakukan Rasulullah SAW, sama halnya dengan membuat syariat sendiri dan menganggap syariat Rasulullah penuh kekurangan. Tentu saja tindakan semacam itu tidak boleh alias haram, sebab syariat datang dari Allah yang hanya disampaikan melalui Rasulullah SAW seorang.

 

Persepsi Ahlussunah Waljamaah

Berbeda dengan sikap dan pendangan keras Wahabi di atas, Ahlusunah Waljamaah –para pengikut mazhab imam empat– berpendapat boleh dan legal menggunkan tasbih, sebab ia dapat membantu dan mempermudah dalam menghitung jumlah zikir agar tidak salah, terlebih saat ini sudah banya bereda tasbih digital.

Sikap dan pandangan Ahlusunah Waljamaah di atas didasarkan kepada beberapa dalil berikut:

  • Hadis yang diriwayat dari Sa’ad bin Abi Waqas, bahwa ia bersama Rasulullah pernah menjumpai seorang perempuan yang sedang berdzikir dengan biji kurma atau kerikil yang berada di kedua tangannya. Maka Rasulullah bersabda: “Akan kuberitahu kepadamu tentang sesuatu yang lebih mudah dan lebih utamadari hal ini”. Kemudian beliau bersabda: “Yaitu (engkau mengucapkan) Subhânallah sebanyak apa yang telah Allah ciptakan di langit, (ditambah dengan) sebanyak apa yang Allah ciptakan  di bumi, (dan ditambah dengan) sebanyak apa yang telah Allah ciptakan diantara keduanya, (kemudian ditambah lagi dengan) jumlah-Nya sebagai pencipta. Kemudian mengucapkan Alhamdulillah, Allahu Akbar, Lâ ilaha illall^ah, dan Lâ haula walaa quwwata illa billâh seperti itu.” (HR. Tirmidzi dan yang lain)
  • Hadis yang diriwayat dari Shafiyah, dia berkata, “Rasulullah SAW masuk menemui saya, dan di hadapan saya ada 4000 biji yang saya gunakan untuk bertasbih. Beliau bersabda: “Engkau bertasbih dengan ini, maukah kau aku ajarkan dengan sesuatu yang nilainya lebih banyak dari tasbihmu ini?” Aku menjawab: “Tentu, ajarkanlah aku.” Beliau bersabda: “Ucapkanlah, Subhânallâh ‘Adada Khalqihi(Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya).” (HR. Tirmidzi dan yang lain).

Dua hadis shahih di atas menegaskan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengingkari penggunaan biji-bijian dan kerikil sebagai alat bantu menghitung zikir. Dalam hadis pertama di atas, Rasulullah hanya menjelaskan bahwa cara yang lebih mudah (saat itu) dan lebih utama adalah menggunakan jari-jemari. Andai Rasulullah SAW membatasi atau melarang menggunakan biji-bijian dan kerikil, tentu beliau akan mengatakannya dengan jelas dan tegas. Kenyataannya tidak demikian, kan?

Demikian pun dengan hadis kedua, Rasulullah SAW sama sekali tidak mengingkari penggunaan biji-bijian sebagai alat hitung saat bertasbih (berzikir). Dalam hadis tersebut, Rasulullah hanya mengajari cara memperbanyak jumlah zikir hingga tak terhingga dan terbatas.

Dengan demikian, kedua hadis tersebut menunjukkan kebolehan menggunakan alat hitung selain jari-jemari, seperti kerikil, biji-bijian, atau tasbih –sebagaimana yang kita kenal sekarang. Dalam diskursus ushul fiqh, pengakuan Rasulullah SAW terhadap sesuatu (tidak mengingkarinya) merupakan bukti jelas bahwa sesuatu tersebut boleh kita lakukan.

Di samping itu, banyak atsar yang menyebutkan bahwa tidak sedikit para shahabat yang menggunakan kerikil dan biji-bijian guna menghitung jumlah zikir mereka, seperti Shahabat Abu Hurairah, Sa’an bin Abi Waqash, dan lain-lain.

Imama Suyuthi dalam kitab al-Hâwi Lil Fatâwi (2/2) berkata, “Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa dia (Abu Hurairah) bertasbih dengan menggunakan biji-bijian yang dirangkai.”

Dalam kitab Al-Thabaqât (3/143) Ibnu Sa’ad berkata, “Diriwayakan dari al-Dailami bahwa Sa’ad bin Abi Waqash bertasbih dengan menggunakan kerikil.”

Jadi, menurut pendapat Ahlussnah Waljamaah, menggunaan tasbih sebagai alat bantu menghitung zikir adalah boleh dan legal belaka, tetapi yang lebih utama (afdhal) adalah menggunakan jari-jemari. Menyangkut masalah afdhaliyah ini, sebenarnya ulama masih berbeda pandangan. Sebagian menyatakan bahwa menggunakan jari-jemari tetap lebih utama dari yang lain tanpa memberi batasan apapun. Oleh sebab itulah, ada yang mengatakan –di antaranya adalah Imam Hasan al-Bashri dan Ibrahim al-Nakha’i –bahwa menggunakan alat bantu lain selain jari-jemari dianggap khilâf al-awla.

Sementara itu, sebagian yang lain menyatakan bahwa menggunakan tasbih lebih utama dari jari-jemari apabila jumlah zikirnya sangat banyak, sebab 1) dikhawatirkan keliru dalam menghitungnya, dan 2) dapat menghilangkan konsentrasi saat berzikir (tidak khusyuk). (Hukmu-ittikhadz al-Subhah, 6-25).

Bantahan terhadap Persepsi Wahabi

Pertama, hadis riwayat Yasairah mengenai perintah Rasulullah SAW untuk menghitung tasbih atua zikir dengan jari-jemari seperti termaktub di atas tidak tepat dijadikan argumentasi mengharamkan penggunakan alat lain selain jari-jemari seperti yang dilakukan Wahabi. Hadis tersebut sama sekali tidak mengarah kepada pelarangan alat lain selain jari-jemari, justru dalam hadis dimaksud hanya menjelaskan cara yang lebih mudah dan lebih utama. Nabi SAW tidak pernah mengingkarinya, padahal beliau beberapa kali memergoki shahabat yang bertasbih menggunakan biji-bijian dan kerikil, seperti hadis yang diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqash di atas. Selain itu, tidak sedikit shahabat yang menggunakan alat hitung lain semacam biji-bijian dan kerikil.

Fakta di atas dengan jelas menunjukkan bahwa perintah Nabi SAW untuk menggunakan jari-jemari bukan lah perintah untuk membatasi (al-hashr) melainkan hanya untuk memberi penjelasan semata (al-bayân). Dengan kata lain, Nabi SAW tidak pernah melarang menghitung zikir dengan alat lain selain jari-jemari, meskipun yang lebih utama adalah meneladani apa yang dicontohkan Nabi SAW.

Kedua, alasan Wahabi mengharamkan tasbih karena Rasulullah SAW tidak pernah menggunakannya adalah tidak tepat, sebab tasbih (dengan bentuknya yang sekarang) pada masa itu belum ada dan belum diciptakan.

Dalam kasus hal baru dan terbarukan, yang mesti kita lakukan terlebih dahulu adalah mendemonstrasikannya terhadap prinsip-prinsip dasar syariat Islam. Jika ia sesuai dengan ruh syariat Islam maka sama sekali tidak alasan untuk melarang dan mengharamkannya. Sebaliknya, jika ia menyalahi dan bertentangan dengan ruh syariat Islam maka harus kita larang dan tolak. Bagitu lah kaidah yang tetapkan para ulama di dalam menyikapi hal baru dan terbarukan.

Ketiga, klaim Wahabi bahwa melakukan sesatu yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW dalam ibadah dan medianya adalah bid’ah serta merupakan penyangkalan terhadap kesempurnaan syariat Islam adalah tidak benar dan tertolak.

Betul dalam pokok-pokok ibadah yang bersifat prinsipil (ushûl al-‘ibâdah al-asâsiyah) kita tidak boleh menambah dan mengurangi sedikit pun. Kita tidak boleh salat asar tiga rakaat atau salat subuh empat rakaat, misalnya.

Akan tetapi, berbeda pasal dengan penambahan dalam hal-hal yang tidak bersifat prinsipil (al-kamâliyât), seperti dalam hal media ibadah (al-wasâ’il); kita boleh menambahnya sebagaimana kita boleh menguranginya.

Contoh, Rasulullah SAW saat salat sendiri –setelah membaca fatihah– beliau membaca dua ratus ayat dan ketika menjadi imam membaca lima belas ayat. Nah, kita boleh membaca lebih banyak dari Rasulullah SAW sebagaimana kita juga boleh membaca lebih sedikit dari beliau, tersebab bacaan selain fatihah dalam salat bukanlah hal prinsipil. Namun demikian, yang lebih utama tetap meneladani Rasulullah SAW secara konsisten.

Hal tersebut juga diperkuat dengan tindakan-tindakan para shahabat yang memodifikasi beberapa media ibadah, salah satu contohnya adalah seperti yang dilakukan Sayidina Umar bin Khathab dengan menjamaahkan salat tarawih di mana pada masa Nabi SAW dikerjakan secara individu.

Oleh karena itu, menggunakan tasbih sebagai alat hitung adalah boleh meski tidak pernah digunakan Rasulullah SAW, sebab tasbih pada saat itu belum ada dan ditemukan serta (yang terpenting) tidak ada nas satu pun atau kaidah-kaidah syariat yang melarang menggunakannya. (al-Mîzan al-‘Âdil, 265).

Epilog

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan sebagaimana berikut:

  1. Boleh menggunakan tasbih sebagai alat menghitung zikir dan wirid serta tidak ada pertentangan antara kebolehan menggunannya dengan fakta Rasulullah SAW hanya menggunakan jari-jemarinya. Sebab, selain pada masa itu belum ada dan penggunaan jari-jemari hanya bentuk penjelasan Rasulullah SAW tentang cara menghitung zikir, juga beliau tidak mengingkari beberapa shahabat yang kepergok menghitung zikir dengan biji-bijian dan kerikil. Lebih dari itu, tidak sedikit para shahabat yang justru menggunakan kerikil dan biji-bijian, tidak konsisten selalu menggunakan jari-jemari.
  2. Yang lebih utama adalah menggunakan jari-jemari untuk menghitung tasbih guna meneladani Rasulullah SAW. Di samping itu, menggunakan jari-jemari lebih mudah dan praktis, ia juga akan selalu berada di dekat manusia baik ketika hidup maupun setelah mati, sehingga ia akan menjadi saksi kelak di akhirat. Hal itu berbeda dengan tasbih yang tidak bisa dibawa mati. Logikanya, sesuatu yang akan terus menemani jauh lebih baik daripada yang akan berpisah.
  3. Meskipun hukum menggunakan tasbih boleh, tetapi kita tetap harus menjaga dari hal-hal dinegatif dalam menggunakannya, yaitu (1) tidak berlebihan dalam menghiasnya, khawatir nantinya malah menjadi riya’ atau menyebabkan sombong, (2) tidak boleh dikasih hiasan emas atau perak sebab laki-laki tidak boleh menggunakan keduanya, (3) membawa tasbih dan menghitungnya dengan tangan kanan sebagaiman diteladankan Rasulullah SAW dalam salah satu hadis di muka, dan (4) mesti dijaga dengan baik. Tidak boleh diletakkan di tempat menjijikkan dan najis sebab ia merupakan media berzikir kepada Allah SWT yang mesti kita muliakan dan jaga dengan baik.

Wallâhu-a’lam

Penulis: Moh. Nadi el-Madany, Putra Bangkalan yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Editor: Mukhtar Syafaat

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.