banner 468x60

KRITIK TERHADAP FIQH WAHABI #5: Hukum Kada Salat Bagi yang Sengaja Tidak Salat

 ARTIKEL
banner 468x60

Salat merupakan salah satu rukun Islam paling utama setelah syahadat, ia adalah tiang agama. Tanpanya bangunan agama akan roboh dan hancur. Selama nyawa dikandung badan, kewajiban mengerjakan salat tidak akan pernah gugur.

Orang yang bisa berdiri maka salat dengan berdiri; jika tidak bisa maka dengan cara duduk; jika duduk tidak bisa maka dengan cara tidur terlentang; jika tidak bisa maka isyarah dengan tangan; jika tidak bisa maka isyarah dengan mata; jika tetap tidak bisa maka salat dalam hati. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan mayoritas ulama. Namun dalam Mazhab Hanafi, orang yang sudah tidak bisa salat berisyarah dengan kepalanya, ia sudah tidak lagi memiliki kewajiban salat (gugur). (Rahmatul-ummah, 25).

Ulama fiqh sepakat bahwa orang mukalaf yang meninggalkan salat karena menentang/mengingkari kewajibannya (jâhid) dihukumi kafir dan mesti dibunuh dengan perintah hakim. Hanya saja, ulama fiqh berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan salat karena malas mengerjakannya tanpa mengingkari kewajibannya. Menurut pendapat yang shahih dari Imam Malik dan Imam Syafi’i, orang tersebut mesti dibunuh sebagai hukuman (had) bukan karena ia kafir. Itu pun dilakukan setelah orang dimaksud diminta bertaubat namun menolaknya. Setelah dieksekusi mati, ia diperlakukan sebagaimana orang Islam; dimandikan, disalati, dikafani, dimakamkan, dan mewariskan.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa orang tersebut tidak mesti dihukum mati melainkan cukup dipenjarakan sampai ia mau mengerjakan salat. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat orang tersebut mesti dibunuh karena dianggap telah kafir/murtad dengan meninggalkan salat. Selapas dieksekusi, menganut pendapat Imam Ahmad, terhadap orang tersebut berlaku hukum orang murtad; tidak perlu disalatkan dan tidak dapat mewariskan hartanya sehingga menjadi harta fai’. (Rahmatul-ummah, 25).

Kesimpulannya adalah kita tidak boleh meninggalkan salat, tidak peduli apapun alasannya. Namun demikian, ada beberapa kondisi di mana kita tidak berdosa ketika tidak melakukan salat meski kita tetap berkewajiban menggantinya (qadhâ’). Di antaranya adalah  (1) tertidur. Itu pun jika tertidurnya sebelum masuk waktu salat dan bangun setelah waktu salat berlalu, dan (2) lupa, karena sibuk mengerjakan pekerjaan halal dan penting, misalnya. Tetapi, jika kita lupa karena sibuk melakukan sesuatu yang tidak penting –seperti main game atau bola– maka kita berdosa dan wajib segera menggantinya.

Nah, Wahabi dan Ahlusunah Waljamaah memiliki pandangan berbeda tentang kada salat meskipun mereka sepakat bahwa kada salat wajib bagi orang yang lupa salat atau karena tertidur. Perbedaan yang terjadi adalah dalam masalah orang yang tidak salat dengan sengaja, apakah dia wajib mengadai salatnya atau tidak?

Menurut Wahabi, orang yang sengaja meninggalkan salat adalah kafir sehingga tidak memiliki kewajiban mengadainya. Sama halnya dengan orang kafir yang masuk Islam, dia tidak memiliki kewajiban mengganti salat yang tidak pernah ia lakukan. Menurut mereka, orang tersebut hanya perlu diminta bertaubat dan penegasan untuk tidak pernah mengulangi kembali. Dengan kata lain, taubat dianggap sudah cukup untuk menghapus segala dosa yang pernah dilakukan tanpa perlu mengadainya.

Abdul Aziz bin Baz, ulama panutan Wahabi, mengatakan, “Orang yang dengan sengaja tidak melaksanakan salat maka ia telah kafir, menurut pendapat ulama yang paling shahih (ashah).” (Majallah al-Taw’iyah al-Islâmiyah, 61)

Dalil-dalil yang mereka jadikan dasar utama adalah sebagaimana berikut:

  • Firman Allah SWT, “Katakalah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni yang sudah lalu..” (QS. Al-Anfal [8]: 38).
  • Hadis riwayat Imam Muslim bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.”
  • Hadis riwayat Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.”
  • Hadis riwayat Imam Muslim dari Amr bin ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda, “Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya dan taubat (pun) menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.”
  • Menurut mereka, syarat-syarat kada sesuai dengan keterangan hadis Nabi SAW adalah (hanya) lupa dan tertidur. Jika syarat ada (lupa atau tertidur) maka apa yang disyaratkan (kada) ada; sebaliknya, jika syarat tersebut tidak ada maka apa yang disyaratkan juga tidak ada.
  • Mereka mengatakan, dosa orang yang sengaja meninggalkan salat tidak akan terampuni dengan mengadainya sehingga tidak ada gunanya mengadai.

Berbeda dengan pandangan Wahabi di atas, ulama Ahlusunah Waljamaah berpendapat bahwa orang yang sengaja meninggalkan salat tetap wajib mengadainya bahkan melebihi kewajiban orang yang lupa dan tertidur.

Imam yang tiga –selain Imam Syafi’i– berpendapat bahwa orang yang meninggalkan salat baik sengaja atau karena uzur, wajib mengadai dengan cepat-cepat (alal-faur) dan tidak boleh menundanya. Sementara itu, menurut Imam Syafi’i, hanya orang yang sengaja meninggalkan salat yang wajib mengadai dengan cepat-cepat, sedangkan orang yang lupa dan tertidur boleh mengadai kapan saja (ala-tarakhi). (Al-Fiqh Alâ al-Madzâhib al-Arba’ah, 446).

Ulama Ahlusunah Waljamaah berhujah dengan beberapa dalil berikut:

  1. Keumuman nas dalam sabda Rasulullah SAW berikut, “Hutang kepada Allah lebih hak untuk dilunasi, (فدين الله أحق أن يقضي).” Menurut mereka, salat yang ditinggalkan menjadi hutang kepada Allah SWT yang dituntut harus segera dibayar dan dilunasi. Hadis di atas berlaku umum, tidak hanya khusus menyangkut haji. Sebab, selain tidak nas lain yang mengkhususkannya juga karena salat dan haji sama-sama bagian rukun Islam. (al-Mîzan al-‘Âdil, 271).
  2. Ulama Ahlusunah menganalogikan (qiyas) orang yang sengaja meninggalkan salat dengan orang yang sengaja tidak berhaji atau sengaja membatalkan puasa pada siang Bulan Ramadhan. Orang yang sengaja membatalkan puasa dengan berhubungan intim di siang hari Ramadhan, selain wajib membayar kafarat, ia juga wajib mengadainya –seperti termaktub dalam hadis riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqi.

Demikian pun, dengan orang yang meninggalkan haji. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW pernah ditanya seorang perempuan, “Sesungguhnya, ibuku bisa berhaji namun tidak melakukannya, apakah ada gunanya bila aku berhaji untuk menggantinya?” Rasulullah SAW menjawab, “Menerutmu, apakah berguna saat kamu melunasi tanggungan hutang ibumu?,” Dia menjawab, “Ya”, lantas Rasulullah bersabda, “Tanggungan hutang terhadap Allah jauh lebih hak untuk dilunasi.

Dengan demikian, menurut Ahlusunah, ketika haji dan puasa yang ditinggalkan dengan sengaja wajib dikadai, maka demikian pun dengan  salat. Sebab, haji, puasa, dan salat sama-sama berupa ibadah sehingga satu sama lain dapat dianalogikan (qiyas).

  1. Ahlusunah mengatakan, salat yang ditinggalkan karena uzur saja –semisal karena lupa– wajib dikadai apalagi sengaja (tidak ada uzur) meninggalkanya maka lebih wajib lagi mengadainya. Tersebab, orang yang meninggalkan salat karena ada uzur, baik lupa maupun tertidur, tidak berdosa, sedangkan orang yang sengaja meninggalkannya berdosa. Jika yang tidak berdosa diwajibkan mengganti apalagi dengan yang jelas-jelas berdosa. Dalam termenologi ilmu ushûl fiqh, hal semacam itu disebut dengan mafhûm awlâ.
  2. Ulama Ahlusunah juga berhujah dengan keumuman hadis riwayat Bukhari-Muslim berikut, lâ kafârata lahâ illâ dzalika (tidak ada denda lain bagi salat kecuali qadhâ’). Menurut mereka, hadis tersebut bermakna umum mencakup meninggalkan salat karena sengaja, lupa, atau tertidur dan tidak dalil lain yang mengkhususkannya. (al-Mîzan al-‘Âdil, 272).

Munaqasah

Sekarang mari kita diskusikan dalil-dalil yang dijadikan hujah oleh masing-masing kubu di atas guna mengetahui pendapat mana yang benar dan lebih sesuai dengan syariat Islam.

Pendapat Ahulusunah Waljamaah yang mengatakan tetap wajib kada bagi orang yang sengaja meninggalkan salat dengan berhujah menggunakan metodologi qiyas adalah lebih tepat dan lebih dekat pada kebenaran. Selain itu, mereka juga medasarkannya pada mafhûm awlâ dengan berlandaskan pada hukum wajib kada bagi orang yang lupa dan tertidur.

Mafhûm awlâ adalah bagian dari mafhûm muwâfaqah yang dapat dijadikan hujah dalam merumuskan hukum. Salah satu produk hukum yang hasilkan dengan metode mafhûm awlâ adalah keharaman memukul dan menghina orangtua.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman, “…Maka, sekali-kali jangalah kamu mengatakan kepada keduanya “ah”…” (QS. Al-Isra [17]: 23).

Dalam ayat tersebut kita dilarang menyakiti orangtua dengan mengatakan “ah” kepada mereka. Nah, menurut ulama, tidak hanya mengatakan “ah” saja yang dilarang tetapi juga memukul dan menghina mereka. Sebab, berkata “ah” saja dilarang apalagi memukul dan menghina mereka, yang tentu saja lebih menyakitkan di banding dengan berakata “ah”. (Al-Qawâ’id al-Jaliyah fi al-Ushûl al-Fiqhiyah, 87).

Demikian pun dengan orang yang sengaja meninggalkan salat. Ia wajib mengadainya melebihi orang yang tidak sengaja meninggalkannya. Orang yang tidak sengaja meninggalkan salat tidak berdosa tetapi tetap wajib mengadai, maka adalah absurd bila orang yang berdosa dengan sengaja meninggalkan salat tidak wajib mengadainya.

Kumudian, pendapat Wahabi yang mengatakan tidak wajib kada bagi orang yang sengaja meninggalkan salat memang didasarkan pada beberapa dalil yang valid (shahîh) tetapi sama sekali tidak tepat dan tidak kena sasaran.

Pertama, pendapat mereka yang mengatakan bahwa orang yang sengaja tidak salat telah kafir adalah tidak tepat. Tersebab, tidak semua orang yang sengaja meninggalkan salat bisa dihukumi kafir oleh karena ada dua kemungkinan orang sengaja tidak salat, 1) karena faktor malas namun tetap meyakini kefarduannya, dan 2) karena dia mengingkari dan menentang kefarduannya.

Sebagaimana telah disinggung di muka, ulama sepakat bahwa orang model kedua dihukum kafir dan mesti dibunuh atas perintah imam, sedangkan untuk orang model pertama, mayoritas ulama tidak menghukumi kafir melainkan hanya fasik. Hujah yang mereka gunakan (salah satunya) adalah hadis yang diriwayat Shahabat Anas bahwa Nabi SAW berkata kepada Mu’az bin Jabal, “Tidak seorang pun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah kecuali Allah haramkan baginya api neraka.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedua, istidlal mereka mengatakan orang yang sengaja tidak salat adalah kafir dengan berdalih zahir hadis, “Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kekufuran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat” dan hadis “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir” adalah tidak tepat dan tidak benar.

Mayoritas ulama fiqh, Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan salah satu riwayat Imam Ahmad, berpendapat bahwa dua hadis di atas diarahkan kepada orang yang sengaja meninggalkan salat karena mengingkari kewajiban salat bukan karena faktor malas. Bahkan, sebagian ulama ada yang menginterpretasikan kalimat al-kufr dalam dua hadis di atas dengan kufur nikmat bukan kufur dalam arti keluar dari agama Islam. (al-Mîzan al-‘Âdil, 273).

Di samping itu, arti zahir kedua hadis tersebut bertentangan dengan beberapa hadis shahih. Salah satunya adalah hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang telah bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; bahwa Isa adalah hamba Allah dan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam; meyakini kebenar surga dan neraka, maka Allah akan memasukkannya ke surga sesuai dengan amal perbuatannya.”

Juga hadis, “Tidak seorang pun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah kecuali Allah haramkab baginya api neraka.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kedua hadis shahih riwayat Bukhari-Muslim tersebut membuktikan bahwa orang yang tidak salat karena faktor malas –dengan tetap meyakini kefarduannya– tidak dihukumi kafir sebagaimana pendapat Wahabi. Adapun dua hadis yang dijadikan hujah Wahabi di atas diarahkan kepada orang yang sengaja meninggalkan salat karena mengingkari dan menentang kewajiban salat. (al-Mîzan al-‘Âdil, 273).

Ketiga, pendapat Wahabi yang mengatakan tidak wajib kada dengan berdalih firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 38 dan hadis “Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya dan taubat (pun) menghapuskan dosa-dosa sebelumnya” di atas adalah tidak benar karena meletakkan dalil tidak pada tempat semestinya. Karena, 1) ayat dan hadis tersebut khithâb (sasaran) nya adalah orang kafir, sedangkan orang yang sengaja tidak salat belum tentu kafir, sebagaimana telah dijelaskan di atas, 2)  ayat tersebut berbicara menganai pengampunan dosa, tidak berbicara soal tidak wajib kada bagi orang yang sengaja meninggalkan salat. Pengampunan dosa tidak meniscayaan penghapusan kewajiban kada. Toh, orang yang lupa dan tertidur saja tetap wajib kada meskipun mereka tidak berdosa, dan 3) hadis tersebut khithâb-nya juga kepada orang kafir sebagai stimulus agar mereka mau masuk Islam, bukan kepada orang yang sengaja meninggalkan salat.

Imam Abdurrahman al-Jaziri, penulis kitab Al-Fiqh ala al-Madzâhib al-‘Arba’ah, mengatakan, “Dosa meninggalkan salat tidak terhapuskan hanya dengan mengadainya tetapi juga mesti bertaubat, sebagaimana (hutang) salat tidak terhapuskan hanya dengan bertaubat tetapi juga mesti mengadainya. Sebab, di antara syarat taubat adalah melepaskan diri dari dosa, sedangkan orang yang bertaubat tanpa mengadai belum melepaskan diri dari dosa.” (Al-Fiqh ala al-Madzâhib al-‘Arba’ah, 446).

Keempat, pernyataan Wahabi bahwa dosa orang yang sengaja meninggalkan salat tidak dapat dihapus dengan mengadainya sehingga tidak perlu melakukannya adalah tidak benar.

Pernyataan tersebut bertentangan dengan beberapa firman Allah SWT dalam Alquran, antara lain adalah, “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa lain selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48).

Juga firman Allah, “Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Dia mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik. Apakah sengaja meninggalkan salat adalah syirik? Tidak! Kaidanya seperti ditegaskan Imam Abdurrahman al-Jaziri di atas, taubat dan kada mesti sama-sama dilakukan, tidak cukup hanya salah satunya.

Dengan demikian, dapat kita tegaskan di sini bahwa pendapat Wahabi yang mengatakan tidak wajib kada bagi orang yang sengaja meninggalkan salat adalah tidak benar. Menyalahi pendapat mayoritas ulama dan dalil-dalil yang dibuat hujah pun di tempatkan pada tempat yang tidak semestinya sehingga keliru dalam beristidadlal dan mengambil kesimpulan hukum.

So, kada tetap wajib bagi  orang yang sengaja meninggalkan salat sebagaimana ia juga tetap wajib bertaubat.

Penulis: Moh. Nadi el-Madany, Putra Bangkalan yang sedang menempuh studi di Yogyakarta.

Editor: Mukhtar Syafaat

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.