banner 468x60

RESPON KERAS KELUARGA BESAR NU BANGKALAN, KETUA PCNU: LIBATKAN ORMAS, LEBIH SELEKTIF MEMILIH BUKU

 NEWS
banner 468x60

KH. Makki Nasir, S.Ag., M.Pd. (Ketua Korda NU Madura, Wakil Ketua MUI Bangkalan, Wakil Ketua FKUB Bangkalan)

Bangkalan, Al-UmmahNews.Com – Beredarnya buku siswa SD/MI kelas V, Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 berjudul Peristiwa dalam Kehidupan, yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI tahun 2017 telah menuai polemik dan keresahan baik bagi pengurus Nahdlatul Ulama maupun warga Nahdliyyin selaku wali murid.

Kerugian yang bersifat moril ini ditanggapi keras dan serius di kalangan Nahdliyyin tanah air, khususnya Keluarga Besar NU Bangkalan sebagai bentuk kepedulian akan nasib generasi penerus bangsa yang sejak usia sekolah dasar telah dijejali pelajaran tematik yang menyesatkan nalar sehat anak-anak didik.

Penggiringan, pengaburan, dan penyesatan fakta dan sejarah ini bisa berdampak serius terhadap pola pikir generasi emas di masa yang akan datang bila tidak segera diambil tindakan konkrit yang nyata khususnya kementerian terkait.

Sampul Buku Tematik “NU Radikal”

Adapun isi dari buku yang ditulis oleh Maryanto, Fransiska, Diana Puspa, Heny Kusumawati dan Ari Subekti tersebut, sebagai berikut:

Masa Awal Radikal
(Tahun 1920-1927-an)

Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka menggunakan asas nonkooperatif/tidak mau bekerja sama. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI).

(Maryanto, dkk [2017:45]).

Respon keras jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bangkalan berikut lembaga dan badan otonom terkait bermula dari Ketua PC Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Bangkalan, Naufal Cholily, M.Th.I via saluran telepon pribadinya (06/02/2019 11:47).

Buku Tematik K13, Halaman 45: “NU Radikal”

“Radikal jika merujuk kepada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, red) memang tidak bermasalah, namun bila dikaitkan dengan konteks sekarang, kata ini melekat pada gerakan anti pemerintah, anti Pancasila, dan lain sebagainya yang menuntut keras adanya perubahan, mulai dari perubahan Undang-undang Dasar hingga sistem pemerintahan”, ucap Ra Noval mengawali pernyataannya dari seberang telepon.

“Jadi, secara bahasa memang tidak masalah. Tapi ketika dikaitkan dengan konteks sekarang, kata radikal ini menjurus kepada ormas (organisasi kemasyarakatan, red) atau kegiatan-kegiatan yang kontra produktif. Sehingga penggunaan kata radikal di buku ajar ini, saya kira (dilakukan dengan, red) sengaja. Sengaja untuk apa?”, ucap Ra Noval seraya memberikan stimulus pertanyaan.

“Sengaja untuk menggiring opini publik atau opini anak-anak sejak dini bahwa NU adalah ormas radikal”, lanjutnya memberikan jawaban atas umpan balik pertanyaannya.

Ra Noval, Ketua PC LP Maarif NU Bangkalan

Masih dalam sambungan teleponnya, Ra Noval melanjutkan pernyataan sikapnya, “sehingga perlu diluruskan kembali penggunaan kata radikal dalam memposisikan NU terhadap perjuangan melawan penjajah ketika itu, masih banyak kata lain yang bisa digunakan untuk menyebutkan fase perjuangan masa radikal. Seperti masa perlawanan, entah itu perlawanan dengan kontak fisik, perlawanan angkat senjata, ataupun perlawanan secara persuasif, dan lain sebagainya”.

“Nampaknya penulis ini sengaja menggiring opini dan memasukkan NU ke dalam fase masa radikal, itu saya kira ada tujuan tersembunyi. Karena ini tim ahli, tidak mungkin mereka mencantumkan satu kata tanpa maksud, itu tidak mungkin”, selidiknya penuh semangat.

Ketua Maarif NU ini melanjutkan percakapannya, “kalau itu dianggap tidak sengaja, maka perlu dipertanyakan profesionalisme dari penulis, tim editing, bahkan Kemendikbud itu sendiri. Saya yakin masing-masing editor dan penulis itu memilih kata untuk menggambarkan sesuatu, ini bukan soal salah ketik, salah huruf, dan lain sebagainya. Ini sudah menjadi satu kalimat yang membentuk suatu opini”, pungkas Ra Noval sebelum menutup teleponnya.

Dr. Wasil, M.Si., Ketua PC Pergunu Bangkalan

Respon keras juga muncul dari Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Bangkalan, “PC Pergunu Bangkalan memprotes keras terkait buku kelas V tematik yang menyebutkan NU sebagai ormas yang bersifat radikal ini harus diusut tuntas dan buku tersebut harus ditarik dari peredaran untuk sementara waktu”, tulis Dr. Wasil, M.Si., Ketua PC Pergunu Bangkalan melalui kontak WA pribadinya (06/02/2019 11:56)

Nada seirama pun juga dinyatakan langsung oleh KH. Mukhtar Syafa’at, selaku Ketua PC LTN (Lajnah Ta’lif wan Nasyr), lembaga NU Bangkalan yang membidangi publikasi, media informasi dan komunikasi.

“Pemerintah harus segera melakukan tindakan, menarik dan merevisi, karena ini kaitannya dengan sejarah yang salah. Selain menutupi kebenaran sejarah, juga akan mempengaruhi generasi penerus bangsa, khususnya warga NU jika dibiarkan”, jawab Ra Mukhtar melalui pesan online pribadinya (06/02/2019 12:29).

KH. Mukhtar Syafa’at, Ketua PC LTN NU Bangkalan

Ketua PCNU Bangkalan, KH. Muhammad Makki Nasir, M.Pd., memberikan respon pamungkas atas pencatutan organisasi Nahdlatul Ulama ke dalam fase masa radikal.

“Untuk ke depannya agar dinas terkait lebih selektif dalam memilih buku-buku untuk bahan ajar di sekolah. Semisal, melibatkan ormas” tutup Kiai Makki sangat singkat, dan padat.

Redaktur: Abdullah Hafidi

Ketua PCNU Bangkalan, KH. Muhammad Makki Nasir, S.Ag., M.Pd.

Author: 

Yang membedakan antara manusia dengan bukan manusia dalam hal transfer budaya adalah KOMUNIKASI!!!

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.