banner 468x60

HUKUM BERMAKMUM PADA ORANG YANG TIDAK MEMBACA BASMALAH

 ARTIKEL, KONSULTASI AGAMA, NEWS
banner 468x60

Hukum Bermakmum pada Orang yang Tidak Membaca Basmalah

Oleh: Muzakki
(Sekretaris Aswaja NU Center MWCNU Kecamatan Geger)

Bangkalan, al-UmmahNews.Com – Aswaja NU Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan Madura kembali melaksanakan rutinitas bulanan yakni kajian tentang hujjah aqidah dan amaliyah an-Nahdliyah dengan materi kitab al-Hujaj al-Qoth’iyah karangan ulama NU Jember KH. Muhyiddin Abdus Shomad.

Pada pertemuan kali ini membahas tentang hukum membaca basmalah di awal Fatihah dalam shalat, wajib atau tidak? Dibaca keras atau pelan? Dalam kitab tersebut dijelaskan, bahwa membaca basmalah di awal Fatihah dalam shalat hukumnya adalah wajib, dan sunnah dibaca dengan keras dalam shalat jahriyah, dibaca pelan dalam shalat sirriyah. Pendapat ini berdasar pada beberapa dalil, antara lain Hadits Rasulullah:

قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Artinya: “Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca Fatihah Kitab (Basmalah)” (HR. Muslim).

المستدرك للحاكم – دار المعرفة – (ج 1 / ص 233(
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.

Artinya: “Dari Anas ibn Malik, berkata. Saya mendengar Rasulullah mengeraskan (baca’an) Bismillahir Rahmanir Rahim”.

Pembahasan menjadi berkembang, tatkala ada sebagian peserta diskusi mengajukan pertanyaan: “Bagaimana hukumnya ketika kita shalat bermakmum pada imam dari pengikut madzhab selain Syafi’iyah, yang tidak terdengar atau tidak membaca basmalah di awal Fatihahnya, (apakah shalatnya) sah atau tidak?”

Peserta diskusi menjawab dengan beberapa jawaban yang bervariasi dengan berdasar pada dalil-dalil masing-masing yang kemudian oleh penulis (Notulen) dapat disimpulkan, bahwa hukum membaca basmalah di awal Fatihah di dalam shalat terjadi khilafiyah dalam spectrum madzahib al-arba’ah :

1. Madzhab Malikiy melarang membaca basmalah di dalam shalat fardhu dan memperbolehkan dalam shalat sunnah.
2. Madzhab Hanafiy mensunnahkan membaca basmalah dengan suara pelan di awal fatihah di setiap raka’at shalat
3. Pendapat yang ashoh dalam Madzhab Hanbaliy mensunnahkan baca Basmalah, tapi dengan suara pelan.
4. Madzhab Syafi’iy mewajibkan baca basmalah di awal Fatihah dalam shalat, sunnah dibaca dengan keras dalam shalat jahriyah dan dibaca dengan pelan dalam shalat sirriyyah.

Dalam Rawȃi’u al-Bayan (1/38), Syaikh Ali Al-Shobuni mengatakan bahwa perbedaan pendapat tersebut dilatar belakangi oleh perbedaan pandangan terkait posisi basmalah apakah termasuk ayat Fatihah atau bukan:

1. Madzhab Malikiy, Basmalah bukan ayat dari surah al-Fatihah dan bukan ayat dari semua surat al-Qur’an kecuali surat al-Naml. Pendapat ini berdasar pada Hadits:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا قالت- كَانَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ)

Artinya: “Aisyah berkata, “Rasulullah memulai shalat dengan takbir dan bacaan alhamdulillaahi Rabbil ‘alamin“.

2. Madzhab Hanafiy, basmalah adalah ayat tersendiri (bukan ayat dari Fatihah dan surah-surah yang lain), Basmalah diturunkan untuk memisahkan antar surah-surah dalam al-Qur’an. Dasarnya adalah:

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان لايعرف فصل السورة حتى ينزل عليه بسم الله الرحمن الرحيم

Artinya: “Dari ibn `Abbas RA sesungguhnya rasulullah SAW tidak tau akan pemisah beberapa surah sampai turun ayat Bismillahir Rahmanir Rahim“.

3. Madzhab Syafi’iy mengatakan, basmalah termasuk ayat dari surah al-Fatihah dengan berdasar pada beberapa Hadits, diantaranya:

عن أبي هريرة عن النّبي صلّى اللّه عليه وسلّم قال : «إذا قرأتم : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ ، فاقرؤوا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ، إنها أم القرآن ، وأم الكتاب ، والسبع المثاني ، وبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ أحد آياتها

Artinya: Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika kalian semua membaca الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ, maka bacalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ karena sesungguhnya basmalah adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, al-Sab’ul Matsany dan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ termasuk ayat dari al-Fatihah.”

Ini menyangkut faktor terjadinya perbedaan pendapat mengenai wajib tidaknya membaca basmalah. Adapun perbedaan pendapat mengenai kesunnahan baca basmalah, dibaca keras atau dibaca pelan, Imam Nawawi mengatakan bahwa ia tidak didasarkan kepada perbedaan tersebut, tapi timbul karena perbedaan tarjih dan perbedaan pemahaman terhadap dalil yang mereka temukan.

Pendapat yang mengatakan tidak sunnah mengeraskan bacaan basmalah berargumen bahwa dalam Shahih Bukhori, Anas mengatakan, Nabi, Abu Bakar, dan Umar selalu memulai sholat dengan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العالمين “. Dalam Shahih Muslim, Anas mengatakan, saya tidak pernah mendengar beliau-beliau ini membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. Kemudian dalam riwayat al-Darruquthni, Anas berkata, “saya tidak pernah mendengar mereka mengeraskan Bismillâh”. Di dalam Shahih Muslim juga disebutkan bahwa Sayyidah Aisyah mengatakan, “Rasulullah selalu memulai shalat dengan takbir dan bacaan al-hamdu lillâh”. Dalam riwayat al-Tirmidzi, Ibn Abdullah bin Mughoffal mengatakan bahwa ayahnya pernah mendengar dia membaca basmalah. Lalu ayahnya menegurnya dengan berkata, “anakku, jauhilah hal-hal baru karena saya shalat bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Usman. Saya tidak pernah mendengar salah satu dari mereka membaca basmalah. Bacalah al-hamdu lillâhi. Perkataan Abdullah ini diperkuat dengan perkataan Ibn Mas’ud bahwa Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak pernah mengaraskan bacaan basmalah dalam shalat fardhu. Imam al-Daruqutni mengatakan, “tidak ada Hadits Shahih yang mengatakan sunnah mengeraskan bacaan basmalah”. Sebagian tabi’in memberi statemen bahwa mengeraskan basmalah adalah bid’ah. Terakhir, kata mereka, jika Hadits kesunnahan untuk mengeraskan bacaan basmalah benar-benar ada maka pasti diriwayatkan secara mutawatir atau minimal masyhur. Tapi kenyataannnya tidak. Kalaupun misalnya betul bahwa Rasulullah mengeraskan bacaan basmalah maka hukum ini telah dimansukh. Hal ini sebagaimana disampaikan Said bin Jubair.

4. Sementara Syafi’iyah berargumen bahwa banyak sekali riwayat yang mengatakan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaan basmalah pada awal Fatihah, antara lain Nu’aim bin Abdullah mengatakan bahwa dia pernah bermakmum kepada Abu Hurairah. Pada waktu itu Abu Hurairah membaca basmalah. Setelah selesai shalat dia berkata, ‘demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya sesugguhnya saya ini adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah shallallâhu ‘aliahi wasallam.”(Hr. al-Baihaqi, Ibn Huzaimah, Hakim, dll).

Dengan pernyataan yang terakhir ini, secara tidak langsung Abu Hurairah mengatakan bahwa membaca basmalah dengan suara keras itu dia tiru dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ketika sahabat Anas ditanya mengenai bacaan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab bahwa bacaan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah panjang. Beliau membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dengan memanjangkan bismillâh, memanjangkan al-rahmân, dan memanjangkan al-rahîm. Kemudian dalam riwayat Imam al-Daruquthni, sahabat Anas secara tegas mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaan basmalah. Senada dengan riwayat Anas ini, Ibn Abbas juga mengatakan bahwa Nabi membaca basmalah dengan suara keras. Dan masih banyak lagi Hadits-hadits lain yang biasa dibaca dalam kitab-kitab Hadits maupun dalam kitab fiqih Syafi’iyah, seperti al-Majmu’ karya Imam Nawawi dan lain-lain.

Mengenai argumen-argumen yang disampaikan oleh pendapat pertama, Imam al-Nawawi menjawab bahwa maksud Hadits Sahabat Anas dan Sayyidah Aisyah yang menyatakan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar radiyallaahu ‘anhuma memulai sholat dengan الحمد لله رب العالمين adalah memulai dengan surat al-Fatihah yang diantara ayatnya adalah basmalah. Hadits tersebut harus dipahami demikian karena keberadaan basmalah di awal Fatihah itu diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah sendiri. Di samping itu, redaksi semacam itu juga terdapat dalam riwayat Ibn Umar dan Abu Hurairah, padahal keduanya termasuk yang mensunnahkan membaca basmalah dengan suara keras.

Hal ini menunjukkan bahwa maksud mereka adalah nama surat. Adapun riwayat dalam Shahih Muslim yang menyatakan bahwa Anas berkata tidak pernah mendengar Nabi, Abu bakar dan Umar membaca bismillah, maka riwayat ini sebenarnya merupakan pemahaman Rawi terhadap Hadits yang pertama. Dia meriwayatkan Hadits itu dengan makna yang dia pahami. Sayangnya dia mengalami kesalahan di dalam memahami Hadits tersebut. Seandainya dia meriwayatkan dengan redaksi yang pertama niscaya dia tidak akan mengalami kesalahan.

Pemahaman di atas diperkuat dengan Hadis shahih yang tercantum dalam Sunan al-Daruquthni melalui Sahabat Anas:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ ” كُنَّا نُصَلِّي خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وعمر وعمثان رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكَانُوا يَفْتَتِحُونَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ فِيمَا يُجْهَرُ بِهِ

Dalam riwayat ini, Sahabat Anas menggunakan redaksi “Ummi al-Qur’an”. Ini menunjukkan bahwa Sahabat Anas bermaksud dengan redaksi بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العالمين adalah memulai dengan surat al-Fatihah, bukan memulai dengan bacaan al-hamdulillah tanpa basmalah atau tanpa mengeraskan bacaan basmalah.

Mengenai membaca basmalah dengan suara keras, terdapat riwayat yang shahih dari Sahabat Anas dan sahabat-sahabat yang lain sebagaimana telah dipaparkan di atas. Karena itu, riwayat yang menyalahinya mesti ditakwil supaya tidak terjadi kontradiksi. Mengenai Hadits ibn Abdullah bin Mughoffal, ia adalah Hadits dha’if karena ibn Abdillah bin mughoffal adalah majhul. Demikian pula Hadits ibn Mas’ud juga dha’if karena ia merupakan riwayat Muhammad bin Jabir al-Yamami, seoarang perawi yang disepakati dha’if oleh para hafidh. Mengenai pernyataan mereka tentang statemen al-Daruquthni juga tidak benar karena dalam kenyataannya al-Daruquthni sendiri menshahihkan banyak sekali Hadits yang menjelaskan kesunnahan mengerasakan bacaan basmalah. Argumen mereka dengan pernyataan sebagian tabi’in juga sangat lemah karena pendapat pribadi tabi’in bukanlah hujjah.

Mengenai perkataan mereka, jika Hadits kesunnahan untuk mengeraskan bacaan basmalah benar-benar ada maka pasti diriwayatkan secara mutawatir, maka ini hanya sebatas klaim. Sebab tidak ada persyaratan demikian dalam setiap hukum.

Dari uraian panjang di atas maka dapat disimpulkan bahwa pertanyaan di atas mengandung dua kemungkinan. Pertama, dapat dipastikan imam tidak baca basmalah. Kedua, diragukan imam baca basmalah atau tidak. Dalam madzhab Syafi’i, masalah ini terdapat perbedaan pendapat sebagai berikut:
1. Sah secara mutlak. Pendapat ini dilontarkan oleh Imam al-Qoffal (Syafi’iyah) dengan alasan yang dii’tibar dalam kasus seperti ini adalah i’tiqodul imam.
2. Tidak sah secara mutlak, bahkan meskipun imam tersebut membaca basmalah. Pendapat ini dilontarkan oleh Imam Abu Ishaq al-Isfirayini. Alasannya karena meski imam tersebut membaca basmalah, tapi dia tidak meyakini bacaan basmalah itu sebagai kewajiban, sehingga dia dihukumi seperti tidak membaca basmalah.
3. Tidak sah, baik diyakini baca basmalah atau diragukan baca basmalah atau tidak.
4. Jika diyakini imam tidak membaca basmalah maka tidak sah bermakmum kepadanya, dan jika diyakini membaca atau diragukan maka sah. Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam Abu Ishaq al-Marwazi, Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini, Imam Al-Bandaniji.

المجموع شرح المهذب – (ج 4 / ص 288)
(فَرْعٌ) فِي مَسَائِلَ تَتَعَلَّقُ بِالْبَابِ (إحْدَاهَا) الِاقْتِدَاءُ بِأَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الْمُخَالِفِينَ بِأَنْ يَقْتَدِيَ شَافِعِيٌّ بِحَنَفِيٍّ أَوْ مَالِكِيٍّ لَا يَرَى قِرَاءَةَ الْبَسْمَلَةِ فِي الْفَاتِحَةِ وَلَا إيجَابَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَرْتِيبَ الْوُضُوءِ وَشِبْهَ ذَلِكَ وَضَابِطُهُ أَنْ تَكُونَ صَلَاةُ الْإِمَامِ صَحِيحَةً فِي اعْتِقَادِهِ دُونَ اعْتِقَادِ الْمَأْمُومِ أَوْ عَكْسِهِ لِاخْتِلَافِهِمَا فِي الْفُرُوعِ فِيهِ أَرْبَعَةُ أَوْجُهٍ (أَحَدُهَا) الصِّحَّةُ مُطْلَقًا قَالَهُ الْقَفَّالُ اعْتِبَارًا بِاعْتِقَادِ الْإِمَامِ (وَالثَّانِي) لَا يَصِحُّ اقتداؤه مطلقا قاله أبو اسحق الاسفرايني لِأَنَّهُ وَإِنْ أَتَى بِمَا نَشْتَرِطُهُ وَنُوجِبُهُ فَلَا يَعْتَقِدُ وُجُوبَهُ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَأْتِ بِهِ (وَالثَّالِثُ) إنْ أَتَى بِمَا نَعْتَبِرُهُ نَحْنُ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ صَحَّ الِاقْتِدَاءُ وَإِنْ تَرَكَ شَيْئًا مِنْهُ أَوْ شَكَكْنَا فِي تَرْكِهِ لَمْ يَصِحَّ (وَالرَّابِعُ) وَهُوَ الاصح وبه قال أبو اسحق المروزى والشيخ أبو حامد الاسفراينى والبندنيجى والقاضي أبى الطيب والاكثرون ان تحققنا تركه لشئ نَعْتَبِرُهُ لَمْ يَصِحَّ الِاقْتِدَاءُ وَإِنْ تَحَقَّقْنَا الْإِتْيَانَ بِجَمِيعِهِ أَوْ شَكَكْنَا صَحَّ وَهَذَا يَغْلِبُ اعْتِقَادَ الْمَأْمُومِ.

Author: 

Yang membedakan antara manusia dengan bukan manusia dalam hal transfer budaya adalah KOMUNIKASI!!!

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.